Thursday, July 18, 2019

Manfaat dan Bahaya Media Sosial bagi Destinasi Pariwisata

Seiring kemajuan zaman dan teknologi membuat manusia semakin terkoneksi dan semakin dekat. Begitu pula dalam hal kemajuan sosial media, atau anak muda sering menyebutnya sebagai SOSMED. Melalui sosial media yang sangat canggih seperti instagram, facebook, twiter dan lainnya yang ada saat ini, informasi bisa menyebar dengan sangat cepat, seingga berita apapun dapat muncul dan dalam sekejab dibaca melalui sosial media.

Pura Lempuyang, Sumber: Tribunnews
Jika dikaji secara objektif, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya sosial ada sisi untung dan ruginya. Sisi keuntungan dari segi bisnis adalah sosial media dapat digunakan sebagai media promosi dengan jangkauan tidak terbatas, juga sebagai alat komunikasi pemasaran yang efektif serta efisiens. Namun sisi negatifnya, sosial media juga dapat dipakai oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebar berita palsu (hoax), baik dengan disadari atau tidak sengaja.

Kesalahan yang disengaja seperti menyebar berita palsu sudah banyak dibahas orang lain. namun disini saya akan menjelaskan kesalahan pengguna media sosial yang tidak disengaja. Dalam pemasaran pariwisata kesalahan tidak sengaja adalah dengan memposting foto destinasi yang tidak sebenarnya di Media Sosial, atau memposting foto dengan tingkat editan yang terlalu dramatis, atau dengan berbagai trik lainya sehingga membuat orang sangat tertarik untuk berkunjung. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini di Pura Lempuyang Bali yang beritanya saya kutip langsung dari media  kompas.com berikut:

Seorang wisatawan mancanegara (wisman) Polina Marinova kecewa ketika berburu foto ke Pura Lempuyang di Kabupaten Karangasem, Bali. Bayangannya akan foto-foto cantik pengguna Instagram di gerbang Pura Lempuyang, ternyata hanyalah ilusi. Ia berpikir bahwa di area pura terdapat kolam atau genangan air untuk memantulkan bayangan para pengunjung yang berfoto di gerbang.

"Itu sungguh kelihatan luar biasa, tetapi tentunya di Instagram tidak ada satu pun orang yang menuliskan bahwa itu nyata. Jadi saya berasumsi ada air di sana," 

Nyatanya ketika sampai ke Pura Lempuyang, Marinova justru melihat jasa potret ilusi dengan cara menaruh cermin di bawah kamera smartphone. Sehingga pantulan pengunjung yang berfoto di Pura Lempuyang terlihat jelas.


"Bukti bahwa influencer Instagram merusak semuanya. Harapan dan mimpiku rusak ketika menemukan 'air' di Gerbang Surga sebenarnya adalah lapisan cermin di bawah iPhone," tulis Marinova di Twitter

Pendapat saya, "Walupun sangat mempesona toh foto tersebut bukan foto sebenarnya, sehingga wajar jika wisatawan kecewa, ingat dalam hal pengelolaan daya tarik wisata alam ataupun budaya keaslian dan otentisitas daya tarik adalah hal yang utama. Terutama bagi wisatawan-wisatawan mancanegara yang sudah sangat teredukasi dengan baik" (baca buku tentang teori daya tarik wisata)"


Pura Lempuyang Bali
Komplain Pura Lempuyang Bali, Sumber: kompas.com


Disini saya tidak menyalahkan pihak manapun, karena memang ini kesalahan tersebut tidak disengaja, atau akibat kurangnya pengetahuan pelaku usaha. Akan tetapi, memang hal tersebut bisa berdampak negatif, karena hal tersebut dapat membuat seakan-akan wisatawan ditipu, padahal mereka sudah datang jauh-jauh dari negara asalnya, namun tidak memperoleh seperti apa yang mereka bayangkan. Editing mungkin memang menjadi penting untuk mempermanis iklan dalam segi pemasaran. Akan tetapi, editing yang dilakukan jangan sampai terlalu berbeda jauh dengan kondisi aslinya.

Efek negatif media sosial lainya yaitu penyebaran berita yang menjadi tidak terbendung, tentu hal ini akan membuat wisatawan berbondong-bondong menuju destinasi karena tertarik dengan keindahan foto di media sosial. Tentu hal ini juga bisa menguntungkan jika bisa dikelola dengan baik, akan tetapi bisa juga menjadi sangat merugikan karena wisatawan masal yang datang tidak terkontrol akan membuat destinasi yang dikunjung menjadi rusak.  Masih ingat tentang kasus kerusakan daya tarik bunga amarylis di Gunungkidul yang pernah saya tulis? Jika belum, Anda masih dapat membacanya disini. Kasus ini dapat terjadi akibat pengelola destinasi wisata masih belum siap, karena memang pada dasarnya manajemen belum ada, apalagi bicara tentang carring capacity. Padahal, berita tentang keindahan bunga amarylis khas Gunungkidul ini sudah santer menjadi perbincangan di media sosial untuk menjadi destinasi yang wajib dikunjungi pada saat itu.

Efek seperti diatas, dapat menjadi lebih berbahaya jika yang kita kelola adalah destinasi wisata alam, karena sekali alam atau lingkungan yang rusak maka tidak pernah dapat diperbaiki seperti semula. Selain kerusakan alam, pertimbangkan juga kerusakan nilai sosial budaya bagi masyarakat, karena ini juga berbahaya. Keruskan nilai moral dapat terjadi akibat masyarakat lokal terpengaruh (meniru) budaya yang datang dari luar (budaya wisatawan), yang sesungguhnya tidak sesuai (pantas) dengan nilai sosial-budaya masyarakat lokal. Jadi, mari kita bijak dalam mengelola pariwisata, pastikan semuanya dapat kita kontrol dan dimajamen dengan tepat. Terutama kontrol dalam hal mempromosikan destinasi kita, jangan terlalu bernafsu untuk dapat tenar sebelum semuanya siap ...
Salam pariwisata


Wednesday, July 17, 2019

Camping di Pantai Kesirat : Lokasi Ideal bagi Penikmat Senja



Camping atau kemah telah menjadi gaya hidup anak muda dalam beberapa tahun belakangan ini. Camping menjadi ajang mencari jati diri bagi sebagian anak muda. Saya katakan demikian karena saya sendiri telah membuktikannya, beberapa tahun terakhir hampir setiap bulan sekali saya pulang pergi Jogja-Bandung menggunakan kereta. Setiap akhir pekan saya selalu barengan dengan pemuda-pemudi yang membawa tas ransel besar-besar, setiap ditanya kana kemana? mereka berkata jika ingin mendaki gunung. Biasanya ketika ditanya mendaki kemana? Mereka kebanyakan mengatakan ke Semeru.

Pantai Kesirat Gunungkidul Yogyakarta
Camping di Pantai Kesirat, Sumber : Toyok Yok
Trend ini kemumngkinan juga dipicu oleh banyaknya foto sunset, sunrise, lautan awan dan pemandangan lainnya di media social, dengan latar belakang yang menandakan bahwa foto tersebut adalah keindahan alam yang didapat dengan mendaki gunung. Selain untuk mendapatkan foto, pengalaman hidup tinggal di alam (camping) juga menjadi motivasi tersendiri bagi anak muda yang sedang mencari jati diri ini, serta mensyukuri semua nikmat tuhan YME yang telah memberikan alam yang sungguh maha indah ini. Akan tetapi, mendaki gunung untuk camping bukanlah perkara yang mudah, terutama bagi pemula, karena dibutuhkan persiapan yang matang, baik mental, fisik, maupun peralatan yang memadahi. Oleh karena itu dalam artikel ini saya ingin merekomendasikan tempat camping yang sedikit berbeda, yaitu di pantai dimana tidak diperlukan banyak kegiatan mendaki, namun tetap dapat memperoleh keindahan alam yang mewah.

Pantai yang saya maksuk ini bernama Pantai Kesirat. Jangan membayangkan tentang hamparan pasir putih, gemericik ombak yang menyapu bibir pantai, atau hewan-hewan laut kecil yang berlarian diantara pasir serta renik sisa karang yang dihantam ombak. Karena, Pantai Kesirat tidak menawarkan pemandangan seperti itu. Pantai ini justru mempunyai pesona tersendiri lewat panorama senja yang luar biasa indah dengan pohon abadi sebagai ikon yang menegaskan bahwa di pantai ini tidak pernah kehabisan cerita tentang senja. Pantai Kesirat memiliki satu pohon oleh penduduk setempat dan para pengunjung disebut sebagai pohon abadi. Pohon tunggal yang tumbuh tepat di bibir tebing itu terlihat begitu mencolok dan mencuri perhatian. Saat musim penghujan, pohon akan dipenuhi dengan daun hijau yang rimbun. Namun saat musim kemarau tiba, satu persatu daun akan berguguran hingga menyisakan batang pohon dan ranting-ranting yang nyaris gundul. Kehadiran pohon tersebut menjadi begitu menarik dan semakin mempercantik pemandangan di Kesirat saat senja tiba. Wisatawan pun biasanya tak lupa untuk berpose di bawah pohon tersebut.

Pantai Kesirat Gunungkidul Yogyakarta
Suasana Malam Pantai Kesirat, Sumber : Toyok Yok
 Tentu saya sangat merekomendasikan pantai ini, tidak rugi bagi Anda untuk kemah disini sekedar menikmati senja, Pesona malam hari di pantai ini pun tidak kalah indahnya. Deburan ombak yang menghantam tebing karang menjadi lullaby yang akan menemani tidurmu. Anda pun bisa membuat api unggun dan mengadakan barbeque party. Lokasi pantai yang jauh dari areal perkampungan membuatmu bebas untuk bernyanyi sekencang-kencangnya hingga dini hari. Eits, tapi sesudah camping dan membuat api unggun pastikan sebelum meninggalkan tempat ini semua sampah Anda bersihkan ya! Bagi Anda yang sedikit bosan camping di gunung, camping  di pantai ini saya jamin Anda akan mendapatkan pengalaman yang sangat berbeda J.

Pantai Kesirat Gunungkidul Yogyakarta
Foto Suasan Malam, Sumber : Toyok Yok
Pantai Kesirat ini terletak di Dusun Wiloso, Desa Girikarto, Kecamata Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Lokasinya tak jauh dari Pantai Gesing dan Pantai Wohkudu. Dari pusat Kota Yogyakarta Pantai Kesirat bisa ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan rute Jogja – Imogiri – Panggang. Jika melalui rute Jalan Wonosari – Patuk, maka waktu yang Anda perlukan akan jauh lebih lama. Sepanjang jalan menuju akan ditemani bentang alam yang indah berupa bukit-bukit, lembah, serta hutan di kanan kirinya.

Lulusan Pariwisata KOK INGIN JADI PNS? simak dulu ulasanya disini.

Pastikan kendaraanmu dalam kondisi prima, sebab rute antara Selopamioro hingga Panggang berupa tanjakan terjal yang berkelok. Jika Anda sudah tiba di daerah Panggang, Anda bisa mencari petunjuk arah menuju Pantai Gesing, setelah itu Anda akan menemukan petunjuk arah menuju Pantai Kesirat. Andai Anda bingung, tanyakanlah rute kepada penduduk lokal yang akan membantumu dengan ramah. Pantai ini tersembunyi di balik bukit Karst dan semak belukar, anda bisa menuju kesana dengan sewa bus jogja jika bawa rombongan atau sewa mobil jogja lepas kunci jika dengan keluarga.

Pantai Kesirat Gunungkidul Yogyakarta
Foto Suasan Senja di Pantai Kesirat, Sumber : Toyok Yok

Sebagai tambahan informasi bahwa harga tiket di Pantai Kesirat dikenakan biaya, Rp. 3.000,- untuk motor dan Rp. 5.000,- untuk mobil, harga ini belum termasuk parker. Demikian informasi mengenai Pantai Kesirat. Sampai Jumpa di Jogja …

Foto Siang Hari, Sumber : https://traveloskyholiday.com

Wednesday, June 12, 2019

Konsep dan Definisi Wisata Bencana (Dark Tourism)

Seiring berjalanya waktu destinasi wisata semakin hari semakin kaya dengan berbagai macam atraksi serta model pengembangan pariwisatanya. Mulai dari wisata alam, budaya, wisata bauatan, minat khusus, wisata sejarah kekelaman masa lalu (dark tourism)  dan yang terakhir akan dibahas adalah  wisata bencana.

wisata bencana
Wisata Bencana Lava Tour, Sumber https://www.facebook.com/lavatourmerapijeep
Wisata bencana mulai berkembang di berbagai daerah rawan bencana, salah satunya di Kota Wisata, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebagian wilayah di Yogyakarta pada dasarnya merupakan kawasan rawan bencana. Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Yogyakarta menyebutkan bahwa gempa yang tercacat dalam literaturnya sebanyak 7 kali gempa tektonik, dari rentang tahun 1867, 1937, 1943, 1976, 1981, 2001 dan 2006. Gempa terbesar yakni tahun 1867, 1943 dan 2006.

Yogyakarta tidak hanya rawan gempa tektonik saja, disebutkan juga bahwa yogyakarta rawan bencana gunung meletus. Yogyakarta mempunyai  gunung aktif Merapi yang sudah 33 kali meletus dari 300 tahun yang lalu. Mengacu dari data kementerian Energi Sumber Daya Mineral Badan Geologi. Perlu diketahui bahwa Gunung Merapi yang berada di antara Yogyakarta dan Jawa Tengah adalah gunung api teraktif di pulau Jawa bahwa dunia. Bahkan letusan Gunung Merapi tahun 2010 merupakan letusan yang terbesar karena mampu memuntahkan material vulkanik hingga mencapai 140 juta meter kubik.

Wilayah- wilayah terdampak bencana di Yogyakarta ternyata tidak selamanya berputus asa menyerah pada bencana. Dibalik benccana yang pernah melada ternyata beberapa wilayah justru mampu bangkit dan berkembang pariwsiatanya.

wisata bencana
Wisata Bencana Lava Tour, Sumber https://www.facebook.com/lavatourmerapijeep
Fenomena pariwisata berbasis komunitas pasca bencana di Yogyakarta memang cukup unik. Sebagian wisata berbasis warga dibangun atas semangat untuk bangkit dari keterpurukan pasca bencana terjadi (letusan Merapi maupun gempa tektonik). Semisal Desa Nglanggeran, Gunung Kidul. Desa wisata ini dibangun pasca gempa tektonik Yogyakarta tahun 2006. Keunikan desa ini adalah geowisata Gunung Purba Nglanggeran, serta ditambah ekowisata berbasis minat khusus lainnya. Kemudian  Desa Wisata Dusun Ngelepen, Prambanan, Sleman yang sering juga disebut dengan Dusun Teletabies, dikarenakan rumah yang dibangun di dusun tersebut serupa dome seperti rumah Teletabies pada serial anak-anak Teletabies. Para wisatawan yang berkunjung di dusun tersebut dipersilahkan melihat bagaimana masyarakat dusun tersebut beraktifitas diantara rumah-rumahnya yang unik. Para wisatawan pun bisa menginap di rumah penginapan serupa dome tersebut, untuk menikmati bagaimana rasanya hidup dalam rumah “Teletabies”.

Dari sekian destinasi wisata berbasis komunitas dan kebencanaan di Yogyakarta, fenomena kepariwisataan komunitas berbasis kebencanaan yang menarik salah satunya adalah di kecamatan Cangkringan, Sleman,  Yogyakarta dengan daya tarik wisata lava tournya. Kecamatan Cangkringan berjarak hanya 7-10 Km dari puncak Gunung Merapi. Sebagian dari wilayah Cangkringan masuk dalam Kawasan rawan bencana III. Kawasan ini sudah sering kali terkena dampak letusan merapi sehingga menimbulkan bentang alam yang begitu unik dan dinamis dari waktu ke waktu. Sedangkan Lava Tour merupakan salah satu atraksi pariwisata yang ditawarkan oleh masyarakat di lereng Gunung Merapi.

Hadirnya fenomena Lava Tour adalah sebuah keunikan dalam model wisata. Lava Tour pada dasarnya adalah sebuah kemasan wisata yang merujuk pada bencana (tepatnya pasca bencana) sebagai komoditas pariwisata.

Suatu kontradiksi di kalangan ilmuan pariwisata bahwa adanya wisata bencana masih terdapat perbedaan pendapat, antara yang pro dan yang kontra. Beberapa pendapat yang kontra misalnya “Wisatawan pada dasarnya datang untuk mendapatkan hiburan, bukan ingin melakukan penelitian maupun observasi. Maka sesungguhnya konsep wisata bencana pada dasarnya adalah hal yang paradoks dan terkesan aneh dan negatif” (McKercher, 1993) dan (Sharpley, 2006). Beberapa juga menganggap bencana bukanlah sebuah tontonan, dan tidak selayaknya bersenang-senang diatas penderitaan orang lain. “Pada dasarnya tujuan wisata bencana adalah hanya tertarik pada kehancuran, bukan berniat untuk menolong” (Potts, 2006; Miller, 2008).

Kemudian pada sisi pro mengatakan bahwa “Wisata bencana pada dasarnya sebagai kendaraan memahami bagaimana dampak bencana nampak melalui tur wisata (Miller, 2008). Fenomena wisata yang menjadikan bencana sebagai “tontonan” memang sulit dihindarkan. Arus masyarakat untuk datang sendiri melihat peristiwa bencana dipengaruhi oleh media massa dalam hal ini jurnalis maupun pejabat pemerintah yang memperlihatkan “tur” mereka di wilayah bencana. Secara tidak langsung media massa dan pejabat pemeritah telah mempromosikan kawasan tersebut (Pezzulo, 2010).

Perdebatan tentang bencana bisa menjadi komoditas wisata atau tidak adalah mengacu pada definisi pariwisata sebagai “Kegiatan rekreasi diluar domisili untuk melepaskan diri dari pekerjaan rutin atau mencari suasana lain” (Damanik & Weber, 2006)Pada umumnya wisata adalah aktifitas seseorang atau kelompok yang keluar dari domisilinya untuk mengisi waktu luang (leisure) dengan hiburan. Pendekatan definisi-definisi yang sifatnya konvensional seperti diatas ini yang membuat fenomena bencana sebagai wisata menjadi perdebatan.

Dari berbagai kajian diketahui latar belakang munculnnya pariwisata adalah untuk mengembalikan kembali ke kondisi awal setelah dilanda bencana, Masyarakat lokal akhirnya harus bernegosiasi dengan bisnis wisata sebagai  solusi ekonomi mereka. Mau membuka diri dengan menjadikan bencana sebagai komoditas wisata demi mengembalikan kondisi ekonomi mereka. Hal inilah yang terjadi di Yogyakarta pasca erupsi Gunung Merapi, maupun di kota lain di dunia seperti di New Orleans pasca badai Catrina.
disaster tourism
Erupsi Gunung Berapi, Sumber fdestianz.blogspot.com
Lalu apa sebenarnya wisata bencana itu ? serta bagaimanakah pola pengembanganya?
Dalam riset, Zein Mufarrih Muktaf (2017) mengajukan konsep wisata bencana sebagai berikut :
Wisata bencana pada dasarnya adalah wisata edukasi yang membawa kehancuran, kematian dan kehidupan kembali sebagai  daya tarik wisata. Kesaksian korban, serta lokasi peristiwa menjadi hal yang ontentik untuk diperhatikan. Kaitan dampak emosional dari wisata bencana lebih terasa daripada mempelajari bencana di museum.

Wisata bencana menghadirkan trip atau tur sebagai bagian dari kemasan wisata. Wisatawan bisa melihat langsung bagaimana bencana terjadi. Hal ini seperti yang dilakukan dalam wisata bencana Lava Tour di lereng Gunung Merapi Yogakarta.
Bagaimana padanagan masyarakat tuan rumah terhadap pariwisata? pelajari disini

Peran komunikasi antara penggerak wisata dan wisatawan menjadi sangat penting, yakni bertugas menceritakan kronologi peristiwa kepada wisatawan, dan akan lebih baik jika yang menceritakan adalah korban langsung atau saksi mata langsung, karena lebih otentik dan meyakinkan. Keempat, wisata bencana lebih mengutamakan interaksi antara saksi dan wisatawan. Hal inilah yang membedakan dengan wisata di museum. Di wisata museum wisatawan harus lebih aktif, Jika mengunakan pemandu wisata, posisi pemandu wisata hanya sebatas penyampai informasi, bukan saksi mata, korban atau ahli. Hal inilah yang membuat wisata bencana lebih mempunyai dampak yang tinggi terhadap wisatawan.

Wisata bencana bisa menjadi bagian dari literasi bencana, dikarenakan saksi atau korban menjelaskan banyak hal tentang kebencanaan.

Ditulis berdasarkan intisari  hasil riset Zein Mufarrih Muktaf (2017)

Instagram Efek dan Pariwisata

           Perkembangan pengguna internet dan media sosial di Indonesia, merupakan salah satu yang terbesar di Asia-Pasifik. Salah satu media sosial yang cukup besar peminatnya adalah instagram. Menurut oke zonetechno, disebutkan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah pengguna Instagram terbanyak. 89 persen Instagrammers yang berusia 18-34 tahun mengakses instagram setidaknya seminggu sekali.

wisata ala korea di bandung
Icon wisata yang diperkuat dengan budaya korea
          Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto yang memungkinkan pengguna mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri. Satu fitur yang unik di Instagram adalah memotong foto menjadi bentuk persegi, sehingga terlihat seperti hasil kamera Kodak Instamatic dan polaroid. Hal ini berbeda dengan rasio aspek 4:3 yang umum digunakan oleh kamera pada peranti bergerak.

           Besarnya pertumbuhan pengguna instagram, menjadikan Instagram Efektif Menyebarkan Informasi Pariwisata.  Keunggulan fitur share foto pada aplikasi media sosial instagram menjadikannya kemudahan tersendiri dalam promosi pariwisata. Kecenderungan wisatawan untuk men-share foto mereka ketika berwisata membuat pengelola tidak perlu terlalu repot membuat promosi pemasaran dan iklan. Share foto yang dilakukan wisatawan memiliki efek yang sama  seperti halnya word of moud, promosi paling murah dan paling efektif dalam pemasaran.

Fenomena instagram juga membawa pendekatan baru dalam perencanaan daya tarik wisata dan destinasi. Jika dalam teori terdahulu, pendekatan pengembangan destinasi dilakukan dengan  3S yaitu : 1.Something to see, 2.something to buy dan 3.somethingto do (Yoeti, 1983), mungkin kini mulai beralih menjadi 4S diantaranya : 1. Something to see, 2. something to buy, 3.something to dodan terakhir yang paling penting adalah harus ada adalah something to share.

Floating market bandung
Floating market bandung
Something to share adalah apa yang dapat wisatawan bagi disaat atau setelah berwisata. Tentu dan tidak lain adalah foto ikonik, yang diambil dari destinasi wisata yang dikunjungi.  Foto instagram yang di share wisatawan dapat menjadi bentuk kenang-kenangan yang sangat berarti terhadap perjalanan wisatanya, meningkatkan gengsi karena terbukti mampu mengunjungi tempat tertentu, dan yang paling penting foto instagram mampu menjadi sumber informasi bagi calon wisatawan lain.

Dalam kondisi seperti diatas, pengembangan destinasi dengan perencanaan lansekap atau icon wisata yang intagramable sangat diperlukan. Tidak hanya aktifitas wisata saja yang penting namun icon destinasi juga merupakan hal yang harus ada. Arsitektur yang  ikonik biasanya akan menjadi penanda atau ciri khas dari suatu tempat atau daerah karena tampilannya lihat ini. Hal ini menyesuaikan tuntutan kebutuhan wisatawan untuk mendapatkan foto terbaik di destinasi. Kecenderungan seperti ini sudah mulai banyak dipenuhi beberapa pengelola destinasi wisata. Berikut merupakan contoh destinasi wisata yang mulai berhasil menarik minat wisatawan dengan pendekatan lansekap wisata yang instagramable :

Kalibiru Kulon Progo Yogyakarta
Destinasi wisata ini menjadi booming berkat foto-foto indahnya yang diunggah netizen di instagram. Wisata kalibiru ini wisata yang unik dan menyenangkan mata. Karenanya kalibiru, Daerah Kulonprogo menjadi daerah yang dikenal oleh masyarakat luas sekarang.

instagram dan pariwisata

Terletak di sebelah barat dari Daerah Istimewa Yogyakarta kalibiru ini terletak di Desa Hagrowilis Kecamatan Kokap Kabupaten Kulonprogo. Kamu tidak perlu berlama – lama jika ingin mengunjungi kalibiru dari Kota Yogyakarta. Karena cukup dengan 1.5 jam kamu sudah sampai di tempat wisata ini. Kalibiru sangat mudah ditemukan sekarang karena memang jalan menuju kalibiru tidak membingungan.

Keunikan utama dari destinasi wisata ini adalah lansekap alamnya yang sangat indah jika dipotret dari ketinggian, dan tentunya intagramable banget. Wisatawan dapat berfoto di atas menara pandang yang dibangun pada pohon sambil menikmati kesegaran udara yang masih alami. Menara Pandang ini juga merupakan salah satu faktor kalibiru menjadi terkenal dan menjadi hits di kalangan anak muda sekitar jogjakarta. Wisatawan yang ingin mencoba Menara Pandang kamu cukup membayar sebanyak Rp.10.000,- untuk 1 orang. Menara Pandang ini mampun menampung sebanyak 3 orang dewasa termasuk penjaga.

Foating Market
Informasi mengenai floating market saya dapatkan dari banyaknya postingan foto mengenai tempat wisata yang baru diresmikan di akhir tahun 2012 lalu ini account instagram teman-teman saya di Bandung.

instagram dan pariwisata

Floating market adalah destinasi wisata berbasis danau buatan yang berada di di Jln. Grand Hotel Lembang yang dapat dijangkau dari kota Bandung dengan berjalan ke bunderan pasar Lembang. Belok kanan trus setelah melihat Grand Hotel Lembang di sebelah kiri, langsung belok kiri. Lokasi Floating Market gak jauh dari Grand Hotel tersebut.

Keunikan dari floating market adalah penjual makanan di atas perahu yang menawarkan sensasi berbeda. Juga wahana keliling danau buatan menggunakan perahu kereta. Keunikan lain dari floating market adalah lansekap yang ditata bergaya negara Jepang dan Korea sehingga lingkungan foating market sangat instagramable untuk berfoto. Untuk menambah manis hasil foto dan kesan kejepangan, wisatawan dapat menyewa baju kimono khas jepang atau korea.

Sebagai tambahan informasi, untuk masuk ke dalam kawasan Floating Market Lembang ini kita dikenakan tiket masuk sebesar Rp10.000 per orang dan Rp5.000 per mobil. Tiket masuk tersebut dapat ditukar dengan beragam pilihan minuman, mulai dari lemon tea, hot cappuccino, hingga hot chocolate.

The Lost Tower Yogyakarta
The Lost World Castle  adalah salah satu tempat wisata yang lagi hits di Yogyakarta. The Lost World Castle sebenarnya merupakan kawasan wisata yang sedang dibuat di Cangkringan Sleman. Letaknya tidak jauh dari gunung merapi. Namun karena sudah banyak pengunjung yang datang untuk berfoto-foto sehingga tempat ini menjadi rame dan booming di sosial media.

instagram dan pariwisata
The Lost Tower di Jogja
Keunikan dari destinasi wisata adalah pada bangunan yang dibuat menyerupai Benteng Cina dengan dikelilingi taman bunga sakura sintetik, yang menambah manis lansekap alami yang sebenarnya sudah sangat manis dan tentunya sangat instagramable.
Meskipun pada saat ini masih terjadi konflik kepentingan antara warga dan pengelola dengan dinas terkait. Namun daya tarik Lost Tower Yogyakarta tetap menawarkan spot foto yang sangat instagram banget.
bunga sakura jogja
Sakura di The Lost Tower
            Dalam kontek pengembangan pariwisata, pengelola dituntut untuk peka terhadap perubahan sosial akibat dari dampak pariwisata. Penggunaan instagram hanya untuk pemassaran dengan menarik wisatawan sebanyak-banyaknya juga menjadi kurang bijak. Selain iconik dan intagramable, faktor nilai dan edukasi serta mewujudkan partisisipasi aktif wisatawan dalam meningkatkan kualitas lingkungan destinasi yang berkalanjutan serta kesejahteraan masyarakat yang dikunjungi menjadi beban moral yang harus dirumuskan dan diwujudkan bersama antar berberapa pihak yang terkait dalam pengembangan destinasi wisata.

Baca artikel lainya tentang perencanaan kelembagaan pariwisata disini

Tuesday, June 11, 2019

Mengenalkan Konsep Geowisata


A.     Mengenal Geowisata
Sampai saat ini, istilah geotourism atau geowisata masih kurang populer dibanding ekowisata (ecotourism), atau agrowisata misalnya. Istilah geotourism muncul pada pertengahan tahun 1990-an. Menurut beberapa sumber, seorang ahli Geologi dari Buckinghamshire Chilterns University di Inggris bernama Tom Hose adalah orang yang pertama aktif memperkenalkan istilah itu. Bahkan ia pernah menulis di Geological Society pada 1996 suatu makalah berjudul “Geotourism, or can tourists become casual rock hounds: Geology on your doorstep” (Dirgantara, n.d.).

GEOWISATA
Gunung Api Purba Nglanggeran sebagai Daya Tarik Wisata Geologi

Geowisata (geotourism) sebenarnya merupakan istilah yang berasal dari gabungan dua kata yaitu geologi dan pariwisata, atau geologi dan tourism. Geologi berasal dari Yunani: γη- (ge-, "bumi") dan  λογος  (logos, "kata", "alasan) adalah  sains yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses pembentukannya (https://id.wikipedia.org/wiki/Geologi). Menurut Purbohadiwijoyo (1967), geologi dapat diartikan sebagai ilmu yang berhubungan dengan bumi, meneliti sejarahnya dengan kehidupan yang ada, susunan keraknya, bangun dalamnya, berbagai gaya yang bekerja padanya, dan evolusi yang dialaminya. 
Sedangkan pariwisata secara umum dapat dimaknai sebagai kegiatan perjalanan seseorang atau sekelompok orang dari satu tempat ke tempat lain dan bersifat tidak menetap, yang bertujuan untuk memperoleh kesenangan dan wawasan baru dari destinasi wisata yang dikunjunginya.
Geowisata adalah suatu kegiatan wisata alam yang berkelanjutan dengan fokus utama pada kenampakan geologis permukaan bumi dalam rangka mendorong pemahaman akan lingkungan hidup dan budaya, apresiasi dan konservasi serta kearifan lokal. Geowisata menawarkan konsep wisata alam yang menonjolkan keinahan, keunikan, kelangkaan dan keajaiban suatu fenomena alam yang berkaitan erat dengan gejala-gejala geologi yang dijabarkan dalam bahasa populer atau sederhana (Kusumahbrata, 1999 dalam Hidayat, 2002).


geologi pariwisata

Pariwisata terjadi karena adanya fenomena ritual inversi. Ritual inversi adalah kecenderungan seseorang untuk mengunjungi tempat baru yang berbeda dari lingkungan atau tempat biasa mereka tinggal dalam waktu sementara, bertujuan untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru, atau sekedar melepaskan kepenatan (I. G. Pitana & Putu, 2009). Oleh karena itu, wisatawan atau calon wisatawan akan cenerung mencari tempat-tempat yang indah, unik, serta berbeda dari tempat biasanya mereka hidup untuk sementara. Sebagai contoh ritual inversi yaitu, “Orang kota memiliki kecenderungan untuk senang berwisata ke desa yang memiliki lingkungan tenang, asri dan juga bentang alam yang unik dan indah, misalnya wisata ke kaliurang dan pendakian Gunung Merapi, Kawasan Kars Pegunungan seribu dan tempat-tempat menarik lainya”. Contoh lain, “Orang eropa yang biasa tinggal di iklim dingin, untuk sementara berwisata ke Negara beriklim tropis.”
Keinginan seseorang untuk mengunjungi kawasan wisata yang memiliki bentang alam yang berbeda dari tempat biasa mereka tinggal serta kawasan alamiah yang memiliki keunikan telah mendorong muncul dan berkembangnya geowisata.
Perkembangan geowisata juga didukung oleh meningkatnya permintaan wisata oleh wisatawan yang memiliki minat khusus, yaitu wisatawan-wisatawan yang menyukai destinasi wisata yang tidak biasa serta menyukai aktifitas wisata yang juga tidak biasa (Hermawan, 2017)dalam bahasa keilmuanya sering disebut wisatawan drifter (I. G. Pitana & Putu, 2009)Wisatawan jenis ini tidak akan puas berkunjung ke destinasi wisata alam hanya untuk melihat-lihat panorama alam saja, atau sekedar berfoto selfi, sebagaimana pola mayoritas kunjungan wisatawan saat berwisata saat ini.
Baca juga artikel mengenai bagaimana merancang dan mengelola restaurant disini

B.     Kriteria Daya Tarik Wisata Geologi (Geowisata)
Geologi pariwisata
Lava Bantal sebagai Warisan Geologi yang Menjadi Daya Tarik Wisata
Menurut Darsoprajitno (2002), perbedaan unsur alam, budaya masyarakat,  dan unsur binaan di setiap belahan bumi yang merangsang seseorang atau sekelompok orang untuk mewisatainya, kemudian dikembangkan untuk kepentingan kepariwisataan, disebut daya tarik wisata. Lebih lanjut disebutkan bahwa daya tarik wisata terdiri dari tata alam, masyarakat,  dan hasil binaan. Dari ketiganya, ada beberapa unsur yang dapat dikembangkan secara khusus, sehingga disebut daya tarik wisata minat khusus.
Daya tarik wisata merupakan segala sesuatu yang mempunyai daya tarik, keunikan,  dan inlai yang tinggi, yang menjadi tujuan wisatawan datang ke suatu daerah tertentu (Suryadana, 2015).
Sedangkan data tarik wisata alam, menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009, dijelasakan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, keaslian, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.
Crouch  dan Ritchie dalam Stevianus (2014) mengatakan bahwa daya tarik wisata menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan motivasi wisatawan untuk berwisata serta merupakan alasan fundamental yang menjadi pertimbangan mengapa seseorang memilih satu destinasi  dan meninggalkan destinasi yang lain.
Suryadana (2015) menambahkan bahwa daya tarik wisata memiliki kekuatan tersendiri sebagai komponen produk pariwisata karena dapat memunculkan motivasi bagi wisatawan  dan menarik wisatawan untuk melakukan perjalan wisata, hal demikian terlebih terjadi di destinasi pariwisata yang memiliki beragam  dan bervariasi daya tarik wisatanya.
Geowisata adalah suatu kegiatan wisata alam yang berkelanjutan dengan fokus utama pada kenampakan geologis permukaan bumi dalam rangka mendorong pemahaman akan lingkungan hidup dan budaya, apresiasi, dan konservasi serta kearifan lokal. Data dan informasi geologi yang sudah terekam dalam peta geologi dapat digunakan dalam perencanaan kegiatan wisata. Dalam peta geologi data mengenai topografi (bentukan alam geologi) beserta berbagai macam rekayasa budaya manusia disertai dengan latar belakang sejarah yang fantastik dapat dibina menjadi daya tarik wisata di sepanjang jalur perjalan atau masing masing dapat menjadi point of interest destinasi. Begitu juga hubungan timbal balik antara mnusia dan alam lingkunganya yang secara ekologi menghasilkan perilaku budaya penduduk yang khas.
Dalam mengembangkan daya tarik wisata geologi dapat juga mengadaptasi kriteria kualitas daya tarik wisata yang diajukan Damanik dan Weber (2006) sebagai berikut : 1. “Harus ada keunikan, keunikan diartikan sebagai kombinasi kelangkaan dan daya tarik yang khas melekat pada suatu objek wisata; 2. Originalitas atau keaslian mencerminkan keaslian atau kemurnian, yakni seberapa jauh suatu produk tidak terkontaminasi oleh atau tidak mengadopsi model atau nilai yang berbeda dengan nilai aslinya; 3. Otentisitas, mengacu pada keaslian. Bedanya, otenstisitas lebih sering dikaitkan dengan derajat keantikan atau eksotisme budaya sebagai daya tarik wisata; 4. Keragaman atau diversitas produk artinya, keanekaragaman produk dan jasa yang ditawarkan. Wisatawan harus diberikan banyak pilihan produk dan jasa yang secara kualitas berbeda – beda.
Berdasarkan waktu pemanfaatanya, daya tarik wisata alam dalam kegiatan geowisata dibagi menjadi 2, antara lain berupa atraksi alam yang tidak bergerak, dimana wisatawan dapat secara langsung memanfaatkanya tanpa harus menunggu, contohnya : pantai, gunung, bukit, goa alami  dan seterusnya. Sedangkan, yang dimaksud atraksi alam yang bergerak, dimana wisatawan harus menunggu atau tidak langsung memanfaatkan, contonya adalah fenomena lava pijar (Sammeng, 2001).
Daya tarik wisata alam atau atraksi alam hendaknya memiliki kriteria sebagai berikut (Sammeng, 2001) :
a.       Aspek informasi
Kualitas informasi merupakan faktor utama yang dibutuhkan bagi wisatawan, karena pada dasarnya motif utamanya adalah mencari sesuatu hal yang baru sebagai upaya pengkayaan diri. Bagi wisatawan dengan motif petualangan aspek infrmasi juga menjadi syarat mutlak bagi penyelenggaraan wisata alam, karena mereka selalu membutuhkan informasi tentang gejala alam untuk mengntisipasi timbulnya bahaya. Hal ini juga berhubungan dengan faktor  dan sarana keselamatan.
b.      Aspek keanekaragaman
Destinasi wisata yang baik setidaknya banyak memiliki alternatif daya tarik baik flora maupun fauna yang dapat dinikmati wisatawan. Hal ini akan menjadi nilai unggul destinasi.
c.       Keindahan  dan keunikan
Atraksi alam terbentuk karena proses fenomena alam serta hanya terjadi pada saat tertentu maka tidak ada kemiripann antara suatu kawasan dengan kawasan wisata lain, sehingga atraksi alam memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan atraksi budaya  dan atraksi buatan, terlebih karena atraksi alam hanya dapat dinikmati secara utuh di ekosistemnya.
d.      Petualangan lintas alam
Motif wisatawan selain menikmati wisata alam dapat juga untuk melakukan penelitian, pendidikan,  dan konservasi alam terdapat minat khusus yang bersifat petualangan, sehingga perlu adanya  kawasan yang benar-benar masih alami, tanpa adanya  atraksi yang bersifat artificial atau buatan yang justru mengganggu aktifitas mereka.
e.       Tersedianya ekosistem yang alami
Suatu atraksi alam hendaknya tetap menyediakan kawasan dengan ekosistem yang masih alami. Ekosistem yang alami berarti sebuah ekosistem alam yang berjalan alami, bukan hasil sebuah rekayasa buatan manusia atau artificial.

C.     Geowisata Sebagai Daya Tarik Wisata Minat Khusus
Destinasi wisata alam umumnya tidak pernah berdiri sendiri mengadalkan alam semata. Daya tarik wisata alam tidak sekedar menjual lansekap pemandangan dan wisatawan diharapkan cukup puas dengan mengamatinya.  Akan tetapi daya tarik wisata mengadalkan alam sering dipadukan dengan daya tarik wisata lain berupa “daya tarik wisata minat khusus” untuk menambah nilai jual dari aktifitas wisata.
Pada prinsipnya, pariwisata minat khusus mempunyai kaitan dengan petualangan (adventure). Wisatawan secara fisik dapat menguras tenaga  dan ada unsur tantangan yang harus dilakukan, karena bentuk pariwisata ini banyak terdapat di daerah terpencil, seperti kegiatan : tracking, hiking, pendakian gunung, rafting di sungai,  dan lainnya.
Pariwisata minat khusus ini juga dikaitkan dengan upaya pengayaan pengalaman atau enriching bagi wisatawan yang melaksanakan perjalanan ke daerah-daerah yang masih belum terjamah atau ke daerah yang masih alami.
Ada beberapa kriteria menurut Fandeli dalam Sudana (2013), yang dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menetapkan suatu bentuk wisata minat khusus yakni :
a.       Learning, pariwisata yang mendasar pada unsur belajar.
b.      Rewarding, pariwisata yang memasukkan unsur pemberian penghargaan.
c.       Enriching, pariwisata yang memasukkan peluang terjadinya pengkayaan pengetahuan antara wisatawan dengan masyarakat.
d.      Adventuring, pariwisata yang dirancang  dan dikemas sehingga terbentuk wisata petualangan.

D.     Prinsip-Prinsip Geowisata
Wisata geologi (geowisata) dapat dijadikan media bagi sosialisasi ilmu pengetahuan alam, pendidikan lingkungan dan pelestarian alam dan pada akhirnya diharapkan akan terwujud pembangunan pariwisata yang berkelanjutan berbasis kearifan lokal.
Prinsip yang harus diperhatikan dalam mengembangkan geowisata diantaranya diantaranya :
1.       Geologically Based (Berbasis Geologi)
Artinya destinasi dan daya tarik wisata yang dijadikan sebagai geowisata merupakan bentukkan hasil proses geologi. Dalam hal ini berati alami dan bukan artifisial (buatan manusia) seperti halnya dalam kritteria daya tarik wisata yang telah penulis sampaikan sebelumnya bahwa kriteria daya tarik wisata alam haruslah memiliki keaslian dan otentisitas. Aspek fisik yang dijadikan daya tarik wisata tersebut dapat berupa kondisi tanah, kandungan mineral, jenis batuan dan lainnya yang masih berhubungan dengan geologi.

  1. Suistanable (Berkelanjutan)
Artinya pengembangan dan pengelolaan geowisata haruslah berkelanjutan agar kelestariannya dapat terjaga.
Pembangunan atau pengembangan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini tanpa merusak atau menurunkan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (World Commission on Environmenoutal and Development, 1987).
Pengembangan pariwisata berkelanjutan telah didefinisikan sebagai pariwisata yang "memaksimalkan potensi pariwisata untuk memberantas kemiskinan dengan mengembangkan strategi yang tepat dalam kerjasama dengan semua kelompok utama, masyarakat adat dan masyarakat lokal", (Komisi PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan 1999).
Rumusan yang lebih spesifik dalam pariwisata berkelanjutan adalah memenuhi kebutuhan wisatawan dan tuan rumah saat ini daerah sekaligus melindungi dan meningkatkan peluang pemenuhan kebutuhan masa depan. Hal ini dipertimbangkan dalam manajerial untuk mengelola semua sumber daya dengan sedemikian rupa, sehingga ekonomi, sosial, dan kebutuhan estetika dapat terpenuhi dengan tetap menjaga nilai-nilai kearifan budaya, perlindungan ekologis penting, keragaman unsur biologi serta sistem pendukung kehidupan lainya (Insula dalam Berno & Bricker, 2001).
Piagam pariwisata berkelanjutan menekankan bahwa pariwisata harus didasarkan pada kriteria yang berkelanjutan yang intinya adalah pembangunan harus didukung secara ekologis dalam jangka panjang dan sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat lokal (Arida, 2006).
Konsep pariwisata berkelanjutan yaitu : a. kegiatan kepariwisataan tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi terhadap masyarakat setempat; b. kegiatan kepariwisataan tersebut tidak merusak lingkungan; c. kegiatan kepariwisataan tersebut bertanggung-jawab secara sosial; dan d. kegiatan kepariwisataan tersebut tidak bertentangan dengan budaya setempat.
Secara ekologis terdapat tiga persyaratan yang dapat menjamin tercapainya pembangunan berkelanjutan, yaitu: a. keharmonisan spasial; b. kapasitas asimilasi; dan c. pemanfaatan berkelanjutan (Dahuri, Rais, Ginting, & Sitepu, 1996).
Keharmonisan spasial (spatial suitability) mensyaratkan, bahwa dalam suatu wilayah pembangunan memiliki tiga zona, yaitu zona preservasi, konservasi dan pemanfaatan (utlilization), wilayah pembangunan hendaknya tidak seluruhnya diperuntukkan bagi zona pemanfaatan, tetapi juga dialokasikan untuk zona lindung (preservasi dan konservasi).
Beragamnya kondisi geologi Indonesia menyebabkan banyak ditemukannya potensi kandungan mineral-mineral berharga yang dapat memancing oknum tidak bertanggung jawab untuk mengambil dan merusak lingkungan disekitarnya.

  1. Geologically informative (Bersifat Informasi Geologi)
Geowisata (geotourism) merupakan pariwisata minat khusus dengan memanfaatkan seluruh potensi sumber daya alam, sehingga diperlukan peningkatan pengayaan wawasan dan pemahaman proses fenomena fisik alam. Contoh objek geowisata adalah gunung berapi, danau, air panas, pantai,sungai, dan lain-lain.yang di dalamnya tentu saja memiliki aspek dalam bidang pendidikan sebagai pengetahuan geodeverity keragaman warisan bumi yang perlu dilestarikan (Nainggolan, 2016).
Destinasi geowisata sebaiknya dilengkapi dengan informasi tentang sejarah terbentuknya bentukkan geologi tersebut, jadi wisatawan paham akan proses proses alam yang terjadi. Dengan adanya informasi tersebut diharapkan masyarakat akan sadar dan tidak berupaya merusak keindahan lingkungan di sekitar objek geowisata.
Education Tour (wisata pendidikan), merupakan bentuk pengemasan tour yang cocok dengan geowisata. Education Tour merupakan suatu perjalanan wisata yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran, studi perbandingan ataupun pengetahuan mengenai bidang pendidikan yang dikunjunginya.
Education tour ini dilakukan untuk mengembangkan wawasan dan ilmu pengetahuan bagi para pelakunya. Pelaku yang melakukan perjalanan wisata pendidikan biasanya tidak terlalu mementingkan kemewahan yang berlebihan dalam melakukan kegiatan perjalanan.

  1. Locally beneficial (Bermanfaat Secara Lokal)
Keberadaan geowisata diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat/ komunitas yang berada di sekitarnya. Manfaat tersebut dapat berupa dampak positif yang dapan dinikmati seperti : ekonomi, sosial, peningkatan kualitas lingkungan atau lainnya (Hermawan, 2016b) dan (Hermawan, 2016a). Dengan geowisata diharapkan proses pembangunan di daerah tersebut semakin meningkat.
Salah satu model pengelolaan yang cocok untuk geowisata adalah pariwisata berbasis kerakyatan/ masyarakat atau dikenal dengan Community Based Tourism (CBT). Dimana dalam CBT paiwisata diinisiasi oleh masyarakat lokal sendiri, dikembangkan bersama oleh masyarakat lokal, dan benefit dari pariwisata diharapkan dapat dinikmati masyarakat seutuhnya (“Kyrgyz Community Based Tourism,” n.d., diakses tanggal 15 Agustus 2016); (ASEAN Community Based Tourism Standart 2016).

  1. Tourist satisfaction (Kepuasan Pengunjung)
            *Tertarik mempelajari tugas pemandu dan intepreter dalam geowisat klik disini 
Mewujudkan kepuasan wisatawan berarti pengelolaan geowisata dapat memberikan kepuasan lahir dan batin bagi wisatawan yang mengunjunginya. Kepuasan wisatawan dapat diperoleh dengan tata kelola wisata yang bagus, setidaknya mampu menyajikan daya tarik wisata yang indah, unik dan asli; mampu memberikan jaminan terrhadap keamanan dan keselamatan bagi wisatawan; serta didukung pelayanan yang prima (Hermawan, 2017).