Advertisement

Friday, April 1, 2022

Cara Menambahkan DOI secara Otomatis di Daftar Pustaka

Digital Object Identifier (DOI) merupakan alamat unik sebagai pengenal suatu dokumen elektronik yang bersifat permanen. Berbeda dengan ISSN yang digunakan sebagai pengenal Jurnal, DOI justru digunakan sebagai alamat unik untuk setiap artikel atau makalah yang diterbitkan secara online. Terbitan ilmiah atau jurnal yang kredibel tentu sudah pasti memiliki DOI untuk pengenal pada setiap artikel yang diterbitkan, sebagai contoh beberapa penerbit jurnal papan atas seperti IEEE, Springer Link, Elsevier Groups, Taylor & Frances, dan Jhon Wiley & Sons dan lain sebagainya.

Ilustrasi, sumber: Pixabay

Terkadang, jurnal juga mewajibkan mencantumkan DOI untuk setiap sumber referensi yang dipakai penulis dalam daftar pustaka.
 Akan tetapi, belum semua penulis familiar dengan DOI, serta bagaimana cara mencantumkan DOI tersebut pada daftar pustaka. 
Oleh karena itu, dalam postingan kali ini saya bermaksud memberikan sedikit tutorial cara mencantumkan DOI. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

1. Buka tautan crossref disini 
2. Selanjutnya akan terdapat tampilan kotak dialog dari crossref sebagai berikut:

Menambahkan DOI secara Otomatis di Daftar Pustaka


3. Langkah ketiga, masukan daftar pustaka yang akan anda cantumkan DOInya pada kotak dialog dibawah. Pastikan gaya sitasi sudah benar! 
 Pelajari cara mudah sitasi dengan google scholar disini.

Menambahkan DOI secara Otomatis di Daftar Pustaka

4. Klik sumbmit pada tombol di bawah kotak
5. Tunggu sebentar ...
6. Kemudian, hasilnya adalah daftar pustaka anda yang sudah lengkap dengan nomor DOI yang sudah tercantum. Contohnya di bawah ini.

Menambahkan DOI secara Otomatis di Daftar Pustaka


6. Kemudian kopi hasil diatas untuk dimasukan ke daftar pustaka pada artikel anda.

Demikian tata cara Menambahkan DOI secara otomatis di daftar pustaka, semoga artikel ini bermanfaat. Selamat mencoba ...

Friday, March 18, 2022

Memberi Coaching Penyusunan Paket Wisata Edutrip

Kegiatan Coaching Penyusunan Paket Wisata Edutrip Desa Wisata Garongan dengan konsep wisata terintegrasi ini dimulai pada tanggal 15 Februari 2022 dan telah selesai pada tanggal 21 Februari 2022.

Aktifitas Wisata Edutrip di Desa Wisata Garongan
Aktifitas Wisata Edutrip di Desa Wisata Garongan

Hary Hermawan (kanan) Ketika Memberikan Coaching
Penulis (kanan) Ketika Memberikan Coaching

Kendala yang ditemukan dalam penyusunan paket wisata di Desa Wisata Garongan adalah “Pengelola masih kesulitan dalam mengidentifikasi fix cost dan variable cost sebagai komponen dalam menyusun paket wisata, karena harga pada paket wisata lama diperoleh pengelola dari meniru paket wisata di desa wisata lain.”Akibatnya, karena perhitungan harga paket hanya dikira-kira maka potensi keuntungan tidak optimal, serta potensi kerugian tinggi jika wsiatawan datang dalam jumlah yang kurang diharapkan (sedikit). Kesulitan berikutnya, kesulitan menentukan atribut-atribut lain dalam komponen produk wisata secara pasti, seperti durasi permainan, harga sewa alat game dan lain sebagainya.

Solusi yang dapat diberikan oleh pendamping yaitu dengan mengidentifikasi kembali komponen biaya paket wisata yang berupa fix cost seperti pemandu, wahana, dan lain sebagainya. Kemudian identifikasi variable cost seperti konsumsi, harga tiket masuk, suvernir dan lain sebagainya. Solusi berikutnya dari tim pendamping adalah memberikan usulan paket wisata edukasi yang dianggap sesuai, namun paket ini bersifat tentatif dan masih diperlukan uji coba.

Selain dalam bentuk paket, pendamping juga membantu dalam membuat paket wisata optional (custom) yang dapat dibeli oleh wisatawan sesuai kebutuhan.

Tuesday, March 15, 2022

FGD Desa Wisata Terintegrasi

FGD Desa Wisata Terintegrasi telah dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2022 yang dihadiri sebanyak 15 peserta dari berbagai elemen masyarakat atau komunitas dan Pengelola Desa Wisata. Kegiatan FGD Desa Wisata Terintegrasi ditujukan untuk memberikan wawasan kepada masyarakat terkait desa wisata terintegrasi, yang diharapkan mampu memfasilitasi berbagai kepentingan masyarakat yang ada di Desa Wisata Garongan serta sebagai wahana pemerataan manfaat ekonomi.

Desa Wisata Terintegrasi
Peserta FGD Desa Wisata Terintegrasi

Desa wisata terintegrasi merupakan konsep yang diharapkan mampu menambah nilai keunggulan bersaing bagi Desa Wisata Garongan, mengingat persaingan bisnis desa wisata di Yogyakarta sangat ketat.

Dalam Kegiatan FGD Desa Wisata Terintegrasi ini hadir beberapa narasumber sebagai pemantik. Narasumber pertama adalah Ibu Nyoman Rai Safitri selaku Kabid Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Usaha Jasa Pariwisata, Dinas Pariwisata Sleman.

Narasumber Ketiga adalah Bapak Prihatno selaku Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta. Kemudian narasumber ketiga adalah Saudara Rudi Wijayanto selaku praktisi Biro Perjalanan Wisata (BPW) dari Maldewa Tourindo.

Selanjutnya, sesi diskusi dipimpin oleh kedua pendamping Desa Wisata Garongan yaitu Bapak Hary Hermawan dan Bapak Arif Dwi Saputra. Diskusi ini ditujukan untuk menggali lebih dalam mengenai berbagai pandangan tokoh-tokoh masyarakat terkait eksistensi Desa Wisata Garongan, termasuk menampung berbagai kepentingan komunitas masyarakat yang ada untuk selanjutnya akan diupayakan untuk diakomodir dalam program-program pendampingan.

Turut hadir dalam kegiatan ini Bapak Armun selaku Perwakilan dari Pemerintah Kalurahan Wonokerto.

Desa Wisata Terintegrasi
Sambutan Ibu Nyoman dari Dinas Periwisata Sleman

Desa Wisata Terintegrasi
Materi dari Bapak Rudi dari Maldewa Tourindo

Desa Wisata Terintegrasi
Sambutan Bapak Armun dari Pemerintah Wonokerto

Desa Wisata Terintegrasi
Sambutan Bapak Agus Perwakilan Pengelola Desa Wisata Garongan




Monday, March 14, 2022

Penerjunan Tim Pendamping Desa Wisata Garongan

Kegiatan penerjunan tim pendamping telah dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2022 di sekretariat Desa Wisata Garongan. Pada kegiatan penerjunan ini juga telah dilaksanakan koordinasi teknis pendampingan dengan pengelola desa wisata, termasuk koordinasi jadwal dan rencana kegiatan pendampingan.

Penerjunan Tim Pendamping Desa Wisata Garongan
Tim Pendamping Bersama Pengelola Desa Wisata Garongan

Pada kesempatan ini tim pendamping menggali data terkait kebutuhan pendampingan.  Permasalahan-permasalahan tata kelola desa wisata telah disampaikan Pokdarwis kepada tim pendamping, diantaranya permasalahan terkait dinamika pengelola pasca adanya pandemi, permasalahan pemasaran, tata kelola keuangan, kompetensi kepemanduan, pengembangan produk dan paket wisata dan sebagainya.

Solusi yang akan dilakukan untuk kegiatan pendampingan selanjutnya selama 15 hari pendampingan telah disepakati meliputi : 1. FGD untuk penyemaan persepsi masyarakat; 2. Pelatihan dan coaching digital marketing; 2. Pelatihan dan coaching paket wisata edutrip; 3. Pelatihan dan coaching kepemanduan Desa Wisata; 4. Pelatihan dan coaching manajemen keuangan desa wisata. Termasuk disepakatinya program pendukung yaitu pelatihan kuliner dan pelatihan pembuatan mug dan pin.


Penerjunan Tim Pendamping Desa Wisata Garongan
Foto Homestay Tempat Tinggal Tim



Sejarah Desa Garongan

 Menurut cerita dari Bapak Agus 19 Februari (2022), desa ini mendapat julukan “Garongan” karena memiliki cerita tersendiri. Menurut informasi masyarakat terdahulu, desa ini disebut sebagai tempat singgah para Garong yang berarti pencuri atau perompak dalam Bahasa Jawa. Konon disebutkan bahwa para Garong ini berasal dari Pantai Utara.

Sebelumnya, para kelompok pencuri atau Garong tersebut tidak bisa datang dan tinggal di Desa Garongan karena lokasi Desa Garongan terletak di antara lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Jalur menuju Desa Garongan tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki maupun berkuda, serta kondisi jalan pada waktu itu yang sangat sulit untuk dilalui.


Sejarah Desa Garongan
Foto Kawasan Desa Garongan

Setelah beberapa waktu berlalu (tidak ada sumber informasi yang valid), terjadi erupsi besar sehingga lereng-lereng diantara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu runtuh. Setelah itu, beberapa puluh tahun kemudian akses untuk jalan sudah dapat dilalui. Para Garong akhirnya bisa datang dan berhenti di daerah ini karena jika mereka ke arah Utara maka tanahnya terlalu tandus dan belum bisa ditanami. Selain itu, apabila mereka ke arah Selatan sudah terdapat kepemerintahan Kasultanan Yogyakarta yang sudah berkuasa. Sehingga mereka tidak berani untuk singgah ke Selatan.

Akhirnya, Kawasan Desa Garongan menjadi satu-satunya lokasi yang sangat strategis bagi para garong untuk singgah. Setelah mereka singgah, mereka melanjutkan aktifitas mereka sebagai garong yaitu mencuri dan sebagainya. Selanjutnya garong tersebut menetap dan tinggal di Desa Garongan dari generasi ke generasi berikutnya. Namun perlu diketahui bahwa saat ini dalam kehidupan masyarakat Desa Garongan sudah tidak ada lagi budaya garong atau mencuri.

Satu-satunya yang tersisa hanya nama kawasannya yaitu Desa Garongan, yang secara administratif saat ini dibagi menjadi (dua) nama dusun, yaitu Dusun Kembang dan Dusun Pojok, yang termasuk dalam wilayah Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Secara Geografis Desa Wisata Garongan terletak di lereng Gunung Merapi. Berjarak 14,3 Kilometer dari puncak Gunung Merapi. Akses menuju Desa Wisata Garongan berjarak 21 Kilometer ke arah Utara dari Ibukota Daerah Istimewa Yogyakarta, atau sekitar 15 Kilometer ke arah Utara dari Ibukota Kabupaten Sleman.

Sejarah Desa Garongan
Penulis


Thursday, December 3, 2020

Mewujudkan Pelayanan Prima di Destinasi Wisata

Loyalitas merupakan aspek penting yang harus terus diperhatikan pengelola desa wisata. Loyalitas yang dimaksud dalam kasus pengelolaan desa wisata adalah adanya kunjungan yang terus berulang.  selain terlihat dari pembelian ulang, loyalitas juga dapat dilihat dari adanya rekomendasi positif atau Word of Mouth atau lebih sering disebut sebagai WOM. 

Kunjungan ulang wisatawan serta rekomendasi positif merupakan dua aspek penting yang harus terus diwujudkan oleh pengelola desa wisata untuk mewujudkan pengelolaan desa wisata yang sukses. Kunjungan ulang wisatawan menjadi penting, karena akan memudahkan pengelola dalam pemasaran desa wisata. Dengan adanya kunjungan ulang, walaupun sedikit namun kontinyu, membuat pengelola tidak perlu mengeluarkan biaya promosi yang besar untuk mencari kunjungan wisatawan baru. Dalam kondisi pandemi COVID 19 ini, wisata terbatas dalam skala kecil lebih diutamakan, dengan begitu maka alam tetap terjaga, wisatawan selamat, dan pengelola dan masyarakat tetap mendapatkan dampak ekonomi yang posistif dari adanya kegiatan desa wisata. 

Ilustrasi, sumber https://www.freepik.com

Selain kunjungan ulang, rekomendasi positif dari wisatawan juga merupakan faktor kedua yang penting untuk diupayakan atau dikelola dengan serius. Karena rekomendasi positif mampu memperngaruhi pengambilan keputusan bagi calon wisatawan lain yang akan berkunjung ke desa wisata. Rekomendasi positif sangat efektif dalam pemasaran hingga saat ini. Adannya kecanggihan teknologi informasi (internet) membuat perubahan pola pemilihan destinasi wisata yang baru. Saat ini, calon wisatawan cenderung melihat ulasan orang lain di berbagai media di internet sebelum mereka memutuskan destinasi mana yang akan dikunjungi. oleh karena itu, ulasan positif tentang destinasi dari orang-orang yang telah berkunjung sebelumnya tentu akan sangat memperngaruhi persepsi calon wisatawan dalam memilih destinasi. Dengan adanya internet, wujud dari rekomendasi saat ini tidak harus berupa kata-kata yang diucapkan, namun juga dapat berupa "status" media sosial seseorang, tulisan-tulisan review pada blog atau website populer, share foto, caption, tanda bintang dan sebagainya. 

Untuk mewujudkan loyalitas wisatawan di destinasi wisata, baik kunjungan ulang maupun rekomendasi positif diperlukan tata pengelolaan yang baik terhadap berbagai faktor, mengingat pariwisata merupakan produk yang heterogen. Dengan karakteristik tersebut membuat faktor penentu loyalitas wisatawan sangat susah diprediksi. Akan tetapi, loyalitas dapat dipuayakan melalui upaya menciptakan pengalaman wisatawan yang memuaskan. 

Kepuasan merupakan perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesannya terhadap kinerja suatu produk dan harapan-harapannya dengan pengalaman nyata yang diterima. Dalam konteks pariwisata, kepuasan wisatawan dapat disebabkan oleh kesesuaian harapan wisatawan sebelumnya terhadap berbagai atribut yang melekat pada produk destinasi wisata dengan kondisi nyata yang diperoleh wisatawan. 

Kepuasan wisatawan yang telah diperoleh selama menikmati destinasi merupakan kondisi yang sangat menentukan apakah wisatawan akan menjadi loyal terhadap destinasi atau tidak. Pelanggan yang merasa puas terhadap destinasi wisata umumnya akan menjadi pelanggan yang terus meners mengunjunginya. Sebaliknya wisatawan yang tidak puas akan berhenti membeli, atau mengunjungi destinasi. 

Kepuasan juga akan turut menentukan, apakah wisatawan akan merekomendasikan destinasi yang pernah dikunjunginya kepada orang lain atau tidak. Jika wisatawan puas ada kemungkinan untuk meberikan rekomendasi. Namun sebaliknya, jika wisatawan tidak puas cenderung akan memberikan rekomendasi yang negatif. Salah satu upaya menciptakan pengalaman wisata yang memuaskan dapat dilakukan dengan cara mewujudkan pelayanan prima. 

Daya tarik wisata merupakan faktor kunci yang paling menentukan minat wisatawan untuk mengunjungi destinasi, tidak terkecuali adalah desa wisata. Namun, tanpa adanya pelayanan yang memuaskan yang disertai dengan keramah-tamahan (hospitality) maka destinasi wisata dapat diibaratkan sebagai raga tanpa jiwa. 

Dalam bisnis pariwisata, pelayanan haruslah menjadi dasar dan motivasi utama dari usaha yang dijalankan. Semangat melayani dengan mengutamakan kebutuhan pelanggan harus dimiliki oleh seluruh jajaran staf tanpa terkecuali, baik itu top manajer maupun staf operasional, sesuai porsi dan uraian tugas masing-masing. 

Pelayanan adalah kegiatan yang dapat diidentifikasi, serta bersifat sebagai media penghubung antara satu pihak dengan pihak lain dengan maksud dan tujuan tertentu. Sedangkan pelayanan prima dapat dimaknai sebagai pelayanan yang terbaik atau pelayanan berkualitas. Pelayanan terbaik merupakan upaya optimal yang dapat diupayakan pengelola wisata untuk mewujudkan pengalaman berwisata yang memuaskan. 

Kualitas pelayanan merupakan ukuran seberapa bagus tingkatan layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan artinya kualitas pelayanan artinya kebutuhan dan keinginan tamu atau pengunjung yang di tentukan perusahaan. 

Upaya mewujudkan pelayanan prima di destinasi wisata dapat dibangun dan diterapkan dengan menganut 5 dimensi pelayanan prima sebagai berikut : 

Realibilitas (realibility), adalah kemampuan untuk memberikan secara tepat dan benar jenis pelayanan sesuai yang telah dijanjikan kepada pelanggan. 

Dalam hal ini, ditekankan tentang perlunya memberikan dan menjaga mutu pelayanan di desa wisata. Reliabilitas juga terkadang dimaknai sebagai kecocokan, antara produk wisata atau pelayanan yang pernah ditawarkan di dalam iklan atau paket wisata dengan produk wisata aktual yang dinikmati wisatawan saat wisatawan berada di lokasi desa wisata. Sebagai contoh adalah fasilitas kamar homestay, jika di dalam iklan disebutkan ada air conditioner (AC), maka saat wisatawan sudah berkunjung harus dapat dipastikan kamar yang dipesan sesuai iklan yang dimaksud, AC tersedia, dan berfungsi dengan baik. 

Responsif (Responsiveness), yaitu kesadaran atau keinginan untuk bertindak cepat dalam membantu pelanggan dan memberikan pelayanan tepat waktu. 

Dalam pelayanan, responsif berarti wisatawan tidak perlu menunggu lama untuk memperoleh pelayanan. Sehingga pengelola wajib memiliki prosedur yang cepat dan tanggap dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan. Tidak bertele-tele dan apalagi membuat wisatawan menunggu terlalu lama tanpa kepastian. 

sebagai contoh, desa wisata memiliki berbagai macam daya tarik dan aktifitas yang dapat dinikmati wisatawan. Mayoritas desa wisata mengandalkan alam terbuka sebagai daya tarik utama dan tempat aktifitas wisata. Saat wisatawan berwisata di desa wisata, seringkali terjadi berbagai risiko dan kejadian tidak terduga. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu adanya SOP pelayanan, khususnya terkait dengan manajemen risiko. 

Kepastian atau jaminan (Assurance), adalah pengetahuan dan kesopan santunan serta kepercayaan diri pegawai. Dimensi assurance memiliki ciri-ciri: kompetensi untuk memberikan pelayanan dan memiliki sifat respek kepada tamu. 

Dari definisi diatas, terlihat jelas bahwa dimensi assurance sangat erat kaitannya dengan kompetensi pemberi jasa. Pemberi jasa termasuk fasilitas yang ada untuk mendukung pelayanan harus terlihat meyakinkan, dan dibuktikan dengan kinerja. 

Contohnya, Pengelola wisata outbond harus kompeten, misalnya: harus mengetahui dengan detail wahana yang menjadi tanggung jawabnya; berapa kapasitasnya wahana; berapa kilogram maksimal kekuatan tali yang digunkan; bagaimana medan dalam kegiatan susur sungai; faktor cuaca dan iklim dan masing banyak hal yang harus dapat dikuasai. Kemauan untuk memperlajari setiap detail pada bidang dan tanggung jawab pekerjaannya menjadi modal utama dalam mewujudkan dimensi assurance dalam pelayanan wisata. 

Jaminan dalam kegiatan pariwisata juga bisa terlihat dari hal-hal kecil, misalnya jika terpaksa harus membuat wisatawan menunggu, maka sebaiknya diberitahukan estimasi waktunya, misalnya dengan kalimat berikut “Mohon maaf menu makanan A saat ini belum tersedia, jika berkenan mohon menunggu 15 menit akan segera kami buatkan” 

Pemahaman lain, assurance berarti merupakan hak dari setiap wisatawan dalam memperoleh jaminan pelayanan wisata yang aman dan bebas dari segala risiko atau bahaya. Misalnya risiko kecelakaan di wahana wisata, kasus kelalaian seringkali membawa petaka bagi wisatawan, dan akhirnya akan merusak citra tempat wisata itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menciptakan jaminan keamanan maka diperlukan perawatan terhadap berbagai wahana wisata yang ada, perlatan safety untuk kegiatan berisiko tinggi, termasuk penyediaan produk makanan dan minuman yang aman dan sehat bagi wisatawan. Penting juga untuk menyertakan asuransi pada biaya tiket masuk atau paket wisata, guna meminimalisir hal-hal di luar dugaan. 

Empati (Empathy), memberikan perhatian individu kepada tamu secara khusus. Dimensi empati memiliki ciri-ciri : kemauan untuk melakukan pendekatan, memberikan perlindungan, usaha untuk mengerti keinginan, kebutuhan dan perasaan tamu. 

Empaty secara mudah juga dapat dimulai dari kemauan untuk mengenal wisatawan lebih dekat. Termasuk segala kebutuhan dan keinginannya saat berwisata. Karena manusia memiliki kemauan dan kondisi yang berbeda-beda yang penting untuk dipahami. Sebagai contoh, saat kita ingin melaksanakan kegiatan wisata, maka dipastikan dahulu kondisi setiap wisatawan, apakah memiliki alergi tertentu, penyakit tertentu, atau ketakutan tertentu dan informasi lain yang diperlukan. Sehingga nantinya kegiatan wisata dapat berjalan lancar. 

Empaty menuntut kepekaan seseorang, namun juga dapat dilatih dengan membiasakan diri. Karena empaty sangat erat kaitanya dengan respon pelayan dalam melayani. Jika seseorang memiliki empathy tinggi, tentu akan memiliki kepekaan dalam memahami kesulitan orang lain, sehingga dapat dengan sigap memberikan pertolongan dan bantuan. 

Nyata (Tangibles), pelayanan prima akan terwujud jika didukung oleh sarana prasarana yang berwujud nyata (tangible). Nyata (Tangibles) yaitu sesuatu yang nampak atau yang nyata yaitu. Sehingga konsekuensinya, segala fasilitas atau media yang digunnakan dalam memberikan pelayanan harus terlihat meyakinkan dan berfungsi dengan baik. 

Beberapa contoh yang harus diperhatikan: 

1) Hal paling sederhana dapat ditinjau dari penampilan staf, misalnya: staf harus berpakaian rapi, bersih, wangi dan meyakinkan. 

2) Kamar homestay bersih, sprei atau selimut yang digunakan berwarna putih bersih. Ruangan kamar wangi, suhu kamar pas, fentilasi udara dan pencahayaan tersedia dengan baik dan lain sebagainya. 

3) Pada restoran misalnya, peralatan makan yang digunakan bersih dan higienis, contoh: sendok tidak berkarat atau bernoda; gelas kaca bening, tidak ternoda dan tidak berbau. 

4) Wahana wisata terlihat terawat dan meyakinkan




Sumber Rujukan
Hermawan, Hary. dkk., (2018). Pengantar Manajemen Hospitality. Pekalongan: Penerbit NEM


Wednesday, December 2, 2020

Mendapat Penghargaan 14 Besar Nasional sebagai Pendamping Desa Wisata Terbaik oleh Kemenparekraf

Sebuah pengalaman baru bagi Saya membawa nama kampus STP AMPTA Yogyakarta dalam mengikuti Program Pendampingan Desa Wisata Tahun 2020 oleh Kemenparekraf RI.
Dalam event ini STP AMPTA menggandeng Desa Wisata Garongan sebagai desa dampingan.
Alhamdulillah, pengalaman perdana mengikuti event ini, Tim STP AMPTA langsung mendapat posisi 14 besar Nasional sebagai Pendamping Desa Wisata Terbaik. 
Sebuah prestasi yg cukup baik untuk Tim Kami (STP AMPTA) sebagai peserta perdana di tahun ini.

Plakat Penghargaan Pendamping Desa Wisata Terbaik dari Kemenparekraf

Laporan Pendampingan

Semoga dengan hasil ini membawa berkah kebaikan bagi saya pribadi beserta seluruh pihak yang terlibat. Saya mewakili ketua tim mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung suksesnya acara ini.