Thursday, July 18, 2019

Manfaat dan Bahaya Media Sosial bagi Destinasi Pariwisata

Seiring kemajuan zaman dan teknologi membuat manusia semakin terkoneksi dan semakin dekat. Begitu pula dalam hal kemajuan sosial media, atau anak muda sering menyebutnya sebagai SOSMED. Melalui sosial media yang sangat canggih seperti instagram, facebook, twiter dan lainnya yang ada saat ini, informasi bisa menyebar dengan sangat cepat, seingga berita apapun dapat muncul dan dalam sekejab dibaca melalui sosial media.

Pura Lempuyang, Sumber: Tribunnews
Jika dikaji secara objektif, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya sosial ada sisi untung dan ruginya. Sisi keuntungan dari segi bisnis adalah sosial media dapat digunakan sebagai media promosi dengan jangkauan tidak terbatas, juga sebagai alat komunikasi pemasaran yang efektif serta efisiens. Namun sisi negatifnya, sosial media juga dapat dipakai oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebar berita palsu (hoax), baik dengan disadari atau tidak sengaja.

Kesalahan yang disengaja seperti menyebar berita palsu sudah banyak dibahas orang lain. namun disini saya akan menjelaskan kesalahan pengguna media sosial yang tidak disengaja. Dalam pemasaran pariwisata kesalahan tidak sengaja adalah dengan memposting foto destinasi yang tidak sebenarnya di Media Sosial, atau memposting foto dengan tingkat editan yang terlalu dramatis, atau dengan berbagai trik lainya sehingga membuat orang sangat tertarik untuk berkunjung. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini di Pura Lempuyang Bali yang beritanya saya kutip langsung dari media  kompas.com berikut:

Seorang wisatawan mancanegara (wisman) Polina Marinova kecewa ketika berburu foto ke Pura Lempuyang di Kabupaten Karangasem, Bali. Bayangannya akan foto-foto cantik pengguna Instagram di gerbang Pura Lempuyang, ternyata hanyalah ilusi. Ia berpikir bahwa di area pura terdapat kolam atau genangan air untuk memantulkan bayangan para pengunjung yang berfoto di gerbang.

"Itu sungguh kelihatan luar biasa, tetapi tentunya di Instagram tidak ada satu pun orang yang menuliskan bahwa itu nyata. Jadi saya berasumsi ada air di sana," 

Nyatanya ketika sampai ke Pura Lempuyang, Marinova justru melihat jasa potret ilusi dengan cara menaruh cermin di bawah kamera smartphone. Sehingga pantulan pengunjung yang berfoto di Pura Lempuyang terlihat jelas.


"Bukti bahwa influencer Instagram merusak semuanya. Harapan dan mimpiku rusak ketika menemukan 'air' di Gerbang Surga sebenarnya adalah lapisan cermin di bawah iPhone," tulis Marinova di Twitter

Pendapat saya, "Walupun sangat mempesona toh foto tersebut bukan foto sebenarnya, sehingga wajar jika wisatawan kecewa, ingat dalam hal pengelolaan daya tarik wisata alam ataupun budaya keaslian dan otentisitas daya tarik adalah hal yang utama. Terutama bagi wisatawan-wisatawan mancanegara yang sudah sangat teredukasi dengan baik" (baca buku tentang teori daya tarik wisata)"


Pura Lempuyang Bali
Komplain Pura Lempuyang Bali, Sumber: kompas.com


Disini saya tidak menyalahkan pihak manapun, karena memang ini kesalahan tersebut tidak disengaja, atau akibat kurangnya pengetahuan pelaku usaha. Akan tetapi, memang hal tersebut bisa berdampak negatif, karena hal tersebut dapat membuat seakan-akan wisatawan ditipu, padahal mereka sudah datang jauh-jauh dari negara asalnya, namun tidak memperoleh seperti apa yang mereka bayangkan. Editing mungkin memang menjadi penting untuk mempermanis iklan dalam segi pemasaran. Akan tetapi, editing yang dilakukan jangan sampai terlalu berbeda jauh dengan kondisi aslinya.

Efek negatif media sosial lainya yaitu penyebaran berita yang menjadi tidak terbendung, tentu hal ini akan membuat wisatawan berbondong-bondong menuju destinasi karena tertarik dengan keindahan foto di media sosial. Tentu hal ini juga bisa menguntungkan jika bisa dikelola dengan baik, akan tetapi bisa juga menjadi sangat merugikan karena wisatawan masal yang datang tidak terkontrol akan membuat destinasi yang dikunjung menjadi rusak.  Masih ingat tentang kasus kerusakan daya tarik bunga amarylis di Gunungkidul yang pernah saya tulis? Jika belum, Anda masih dapat membacanya disini. Kasus ini dapat terjadi akibat pengelola destinasi wisata masih belum siap, karena memang pada dasarnya manajemen belum ada, apalagi bicara tentang carring capacity. Padahal, berita tentang keindahan bunga amarylis khas Gunungkidul ini sudah santer menjadi perbincangan di media sosial untuk menjadi destinasi yang wajib dikunjungi pada saat itu.

Efek seperti diatas, dapat menjadi lebih berbahaya jika yang kita kelola adalah destinasi wisata alam, karena sekali alam atau lingkungan yang rusak maka tidak pernah dapat diperbaiki seperti semula. Selain kerusakan alam, pertimbangkan juga kerusakan nilai sosial budaya bagi masyarakat, karena ini juga berbahaya. Keruskan nilai moral dapat terjadi akibat masyarakat lokal terpengaruh (meniru) budaya yang datang dari luar (budaya wisatawan), yang sesungguhnya tidak sesuai (pantas) dengan nilai sosial-budaya masyarakat lokal. Jadi, mari kita bijak dalam mengelola pariwisata, pastikan semuanya dapat kita kontrol dan dimajamen dengan tepat. Terutama kontrol dalam hal mempromosikan destinasi kita, jangan terlalu bernafsu untuk dapat tenar sebelum semuanya siap ...
Salam pariwisata


Wednesday, July 17, 2019

Camping di Pantai Kesirat : Lokasi Ideal bagi Penikmat Senja



Camping atau kemah telah menjadi gaya hidup anak muda dalam beberapa tahun belakangan ini. Camping menjadi ajang mencari jati diri bagi sebagian anak muda. Saya katakan demikian karena saya sendiri telah membuktikannya, beberapa tahun terakhir hampir setiap bulan sekali saya pulang pergi Jogja-Bandung menggunakan kereta. Setiap akhir pekan saya selalu barengan dengan pemuda-pemudi yang membawa tas ransel besar-besar, setiap ditanya kana kemana? mereka berkata jika ingin mendaki gunung. Biasanya ketika ditanya mendaki kemana? Mereka kebanyakan mengatakan ke Semeru.

Pantai Kesirat Gunungkidul Yogyakarta
Camping di Pantai Kesirat, Sumber : Toyok Yok
Trend ini kemumngkinan juga dipicu oleh banyaknya foto sunset, sunrise, lautan awan dan pemandangan lainnya di media social, dengan latar belakang yang menandakan bahwa foto tersebut adalah keindahan alam yang didapat dengan mendaki gunung. Selain untuk mendapatkan foto, pengalaman hidup tinggal di alam (camping) juga menjadi motivasi tersendiri bagi anak muda yang sedang mencari jati diri ini, serta mensyukuri semua nikmat tuhan YME yang telah memberikan alam yang sungguh maha indah ini. Akan tetapi, mendaki gunung untuk camping bukanlah perkara yang mudah, terutama bagi pemula, karena dibutuhkan persiapan yang matang, baik mental, fisik, maupun peralatan yang memadahi. Oleh karena itu dalam artikel ini saya ingin merekomendasikan tempat camping yang sedikit berbeda, yaitu di pantai dimana tidak diperlukan banyak kegiatan mendaki, namun tetap dapat memperoleh keindahan alam yang mewah.

Pantai yang saya maksuk ini bernama Pantai Kesirat. Jangan membayangkan tentang hamparan pasir putih, gemericik ombak yang menyapu bibir pantai, atau hewan-hewan laut kecil yang berlarian diantara pasir serta renik sisa karang yang dihantam ombak. Karena, Pantai Kesirat tidak menawarkan pemandangan seperti itu. Pantai ini justru mempunyai pesona tersendiri lewat panorama senja yang luar biasa indah dengan pohon abadi sebagai ikon yang menegaskan bahwa di pantai ini tidak pernah kehabisan cerita tentang senja. Pantai Kesirat memiliki satu pohon oleh penduduk setempat dan para pengunjung disebut sebagai pohon abadi. Pohon tunggal yang tumbuh tepat di bibir tebing itu terlihat begitu mencolok dan mencuri perhatian. Saat musim penghujan, pohon akan dipenuhi dengan daun hijau yang rimbun. Namun saat musim kemarau tiba, satu persatu daun akan berguguran hingga menyisakan batang pohon dan ranting-ranting yang nyaris gundul. Kehadiran pohon tersebut menjadi begitu menarik dan semakin mempercantik pemandangan di Kesirat saat senja tiba. Wisatawan pun biasanya tak lupa untuk berpose di bawah pohon tersebut.

Pantai Kesirat Gunungkidul Yogyakarta
Suasana Malam Pantai Kesirat, Sumber : Toyok Yok
 Tentu saya sangat merekomendasikan pantai ini, tidak rugi bagi Anda untuk kemah disini sekedar menikmati senja, Pesona malam hari di pantai ini pun tidak kalah indahnya. Deburan ombak yang menghantam tebing karang menjadi lullaby yang akan menemani tidurmu. Anda pun bisa membuat api unggun dan mengadakan barbeque party. Lokasi pantai yang jauh dari areal perkampungan membuatmu bebas untuk bernyanyi sekencang-kencangnya hingga dini hari. Eits, tapi sesudah camping dan membuat api unggun pastikan sebelum meninggalkan tempat ini semua sampah Anda bersihkan ya! Bagi Anda yang sedikit bosan camping di gunung, camping  di pantai ini saya jamin Anda akan mendapatkan pengalaman yang sangat berbeda J.

Pantai Kesirat Gunungkidul Yogyakarta
Foto Suasan Malam, Sumber : Toyok Yok
Pantai Kesirat ini terletak di Dusun Wiloso, Desa Girikarto, Kecamata Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Lokasinya tak jauh dari Pantai Gesing dan Pantai Wohkudu. Dari pusat Kota Yogyakarta Pantai Kesirat bisa ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan rute Jogja – Imogiri – Panggang. Jika melalui rute Jalan Wonosari – Patuk, maka waktu yang Anda perlukan akan jauh lebih lama. Sepanjang jalan menuju akan ditemani bentang alam yang indah berupa bukit-bukit, lembah, serta hutan di kanan kirinya.

Lulusan Pariwisata KOK INGIN JADI PNS? simak dulu ulasanya disini.

Pastikan kendaraanmu dalam kondisi prima, sebab rute antara Selopamioro hingga Panggang berupa tanjakan terjal yang berkelok. Jika Anda sudah tiba di daerah Panggang, Anda bisa mencari petunjuk arah menuju Pantai Gesing, setelah itu Anda akan menemukan petunjuk arah menuju Pantai Kesirat. Andai Anda bingung, tanyakanlah rute kepada penduduk lokal yang akan membantumu dengan ramah. Pantai ini tersembunyi di balik bukit Karst dan semak belukar, anda bisa menuju kesana dengan sewa bus jogja jika bawa rombongan atau sewa mobil jogja lepas kunci jika dengan keluarga.

Pantai Kesirat Gunungkidul Yogyakarta
Foto Suasan Senja di Pantai Kesirat, Sumber : Toyok Yok

Sebagai tambahan informasi bahwa harga tiket di Pantai Kesirat dikenakan biaya, Rp. 3.000,- untuk motor dan Rp. 5.000,- untuk mobil, harga ini belum termasuk parker. Demikian informasi mengenai Pantai Kesirat. Sampai Jumpa di Jogja …

Foto Siang Hari, Sumber : https://traveloskyholiday.com

Sunday, July 14, 2019

Gudangan : Makanan Khas Jawa yang Penuh Filosofi

Gudangan
Gudangan Makanan Tradisional, Foto by : Anderas Seluas Samodra
Gudangan adalah makanan yang terdiri dari aneka sayuran yang direbus dan disajikan dengan sambal kelapa parut. Menu berbahan dasar sayuran ini begitu lengkap dan memiliki cita rasa Indonesia. Gudangan tak seperti sayur pada umumnya yang hanya terdiri satu macam sayur saja, namun gudangan bisa beraneka ragam bahan sayuran.
Bagi orang-orang Jawa khususnya Yogyakarta dan Jawa Tengah yang lahir sebelum zaman penjajahan (hehe gak tau mulainya kapan), sampai pada pertengahan tahun 90 an tentu tidak asing dengn nama kuliner khas yang satu ini. Gudangan biasanya disajikan dalam bentuk tumpeng yang dibagikan secara gratis oleh seseorang kepada masyarakat terutama anak-anak kecil pada zaman dahulu untuk memperingati neton anaknya (hari lahir dalam penanggalan jawa), dikenal dengan tradisi Bancaan, beberapa daerah menyebutnya tradisi Momongan atau Momong. Tradisi bancaan adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME atas bertambahnya umur anak dan nikmat yang diberikan. Selain itu, gudangan juga muncul pada tradisi hajatan tertentu oleh masyarakat seperti syukuran khusus, selapanan dan selamatan dalam berbagai bentuk. Saya pernah menemui bancaan sebagai rasa syukur atas lahirnya Sapi, hehe. Ya sapi, cow. Biasanya untuk momongan sapi, yang dibagi-bagi ditambah minuman es dawet yang dibungkus plastik kecil-kecil. Selain itu, dahulu bancaan dan gudangan juga pernah saya temui untuk tradisi slametan dan syukuran atas rejeki berupa kepemilikan kecaraan bermotor, waow serba guna.... its about Gudangan !!!.
Gudangan
Makanan Tradisional Gudangan, Foto by : Anderas Seluas Samodra
Tradisi Bancaan merupakan sepesial moment yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak generasi old pada sore hariKarena bakal dapat Nasi Gudang, 1 porsi gudangan dengan potongan telur seiprit dibungkus daun, “Bukan tentang banyaknya, tapi kebersamaan, kemeriahan, dan keistimewaanya haha. Pada masa kecil dahulu, tradisi ini akan kita ketahui saat ada anak yang undang-undang (dipercaya untuk mengundang), kemudian meneriakanya kepada kumpulan anak yang sedang bermain “woyy ada momong di rumah si Anu...”. Lalu semunya berbondong-bondong menuju ke tuan rumah acara, kemudian tuan rumah atau sesepuh membacakan doa dan dibagi dah itu tumpeng gudangan (base on true story, dilarang protes hehe).
Akan tetapi Tradisi ini sudah mulai hilang di zaman sekarang, “Mungkin beberapa daerah tetap menjaga tradisi ini....” Sedih...,,, karena sudah tidak bisa dapat gudangan gratis. Eh iya, udah bangkotan gak boleh ikutan bancakan hehe. Bercanda, yang bikin sedih adalah mulai lunturnya tradisi ini. Tradisi yang penuh makna, ajaran, dan juga filosofi.
Berbicara soal filosofi makanan khas “Gudangan,” sebenarnya dilosofinya baru saya ketahui akhir-akhir ini lho, baru kemarin sore, alaupun makan-makanya sudah sejak jaman old...
masakan tradisional
Makanan Tradisional Gudangan, Foto by : Anderas Seluas Samodra
Selain kelezatan begitu menggoda, atau “Mak Nyus” (meminjam istilah Alm. Bapak Bodan), Gudangan ternyata syarat dengan nilai nilai filosofi. Meskipun saya bukan ahli filsafat seperti Plato, tetapi tetap saya akan menjelaskanya karena saya telah membacanya di  Sumer http://www.apakabardunia.com/2011/03/mengenal-dan-mengetahui-filosofi-yang.html :

Nasi putih
Biasa saat tradisi bancaan dibuat menyerupai kerucut atau disebut tumpeng (kecil), gunungan (jika bentuknya gede, itu lho seperti dalam tradisi grebek sekatenan). Gunungan yang melambangkan tangan merapat menyembah kepada Tuhan. Sedangkan, nasi putih melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal. Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”.



Ingkung: ayam jago (jantan, tentunya sudah dimasak)



Dimasak utuh dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa). Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk yang dilambangkan oleh ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.

Telur Rebus bersama Kulitnya

Telur direbus utuh, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong, sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu (Untuk dibagi dalam bancaan dipotong kecil kecil bersama kulitnya). Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan. Piwulang jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan, dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Sayuran dan Urab-uraban

Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap. Sayuran-sayuran tersebut juga mengandung simbol-simbol antara lain: 
  1. Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, tercapai. 
  2. Bayam (bayem) berarti ayem tentrem, 
  3. Taoge/cambah yang berarti tumbuh, 
  4. Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/inovatif, 
  5. Brambang (bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya, 
  6. Cabe merah diujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang meberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain. 
  7. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya.
Untuk membuat gudangan sendiri sebenarnya juga cukup mudah karena hanya beberapa macam sayur direbus, kemudian ditaburi oleh bumbu yang sangat unik karena terbuat dari kelapa parut atau ada juga yang menyebutnya sebagai sambal gudangan. Karena pembuatan yang mudah tersebut sehingga gudangan tidak hanya untuk acara khusus saja namun juga menjadi salah satu macam sajian untuk makan keluarga sehari-hari, selain itu terkadang dipasar-pasar tradisional juga ada yang menjajakannya. Selain itu anda wisatawan juga dapat memesan di warung marung sekitar destinasi wisata, saat ini sudah mulai banyak warung tradisional yang menjajakan makanan ini.

Artikel ini saya dedikasikan kepada rekan-rekan senasib dan sepenanggungan generasi tahun 90an. Untuk membuka kembali memori masa lalu. Memori masa kecil dimana kebahagiaan dan tawa selalu mendominasi, walaupun tanpa Android (walaupun sekarang tidak online satu hari saja sudah gundah gulana). Salam ...

Ingin berkarir sebagai PNS di Bidang Pariwisata? ikuti ulasanya disini

Sego Tiwul khas Gunungkidul, dari Kuliner Inferior menjadi Superior

Tiwul khas Gunungkidul
Nasi Tiwul, Foto by : Andreas Seluas Samodra
Menelusuri memori masa lalu, masih terngiang lagu campursari dengan judul Tiwul Gunung Kidul, mahakarya lagu yang begitu indah. Satiap baris syair dan melodinya yang dilantunkan seakan-akan mampu membawa kita untuk menyibak eksotisme Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lagu ini sukses mengenalkan sebuah maskot kuliner yaitu Sego Tiwul (Nasi Tiwul) yang merupakan makanan asli Kabupaten Gunungkidul.
Sebenarya masih banyak lagi makanan khas dari daerah ini, akan tetapi nama makanan yang berbahan dasar olahan singkong ini adalah yang sangat iconik, menjadi identitas Gunungkidul dan sangat melegenda di berbagai daerah. Selain kelezatanya yang menggoda, ternyata sego tiwul menyimpan sejarah panjang lho...
 Sego tiwul pada zaman penjajahan dahulu merupakan makanan inferior (pengganti nasi), makanan masyarakat pribumi yang dimakan bersama lauk pauk. For your information : zaman dahulu beras (nasi) adalah makanan mewah, karena kelangkaanya menjadikanya hanya mampu dimakan oleh masyarakat golongan kelas atas. Menanam padi pada zaman jauh lebih sulit dari pada sekarang. Varietas bibit yang masih primitif menjadikan masa panen yang sangat lama ditambah juga berbagai jenis hama yang belum mampu diatasi.
Tiwul khas Gunungkidul
Sego  Tiwul Disajikan dengan Secangkir Teh, Foto by : Andreas Seluas Samodra
Tiwul yang berbahan dasar singkong adalah makanan yang paling umum dimakan masyarakat pada masa itu, selain nasi jagung. Karena singkung lebih mudah ditanam daripada padi, terutama di daerah gersang seperti Gunungkidul pada masa itu. Nasi  Tiwul dibuat melalui berbagai proses. Mulai dari mengupas kemudian menjemur singkong sampai kering hingga menjadi gaplek (singkung kering minim kadar air). Kemudian gaplek ditumbuh menjadi halus kemudian dikukus hingga matang.
Tiwul khas Gunungkidul
Nasi Tiwul Kuliner Khas Gunungkidul, foto by : Andreas Seluas Samodra
Penyajian tiwul secara umum biasanya disajikan dengan taburan parutan kelapa, saat ini variasi penyajianya sudah lebih bervariasi, dengan berbagai lauk pauk pendukung, seperti ayam bakar, tempe penyet dan sebagainya. Makanan yang memiliki rasa sedikit manis dan beraroma alami singkong, serta bertekstur  pulen menggumpal ini menjadi sensasi tersendiri. Selain resanya yang lezat, Nasi Tiwul dipercaya memiliki kandungan kalori yang lebih rendah dari nasi dan sangat cocok untuk membantu diet.
Dahulu makanan inferior, saat ini Sego Tiwul telah berubah menjadi makanan superior, dan menjadi identitas kebanggaan bagi masyarakat serta icon wisata Kuliner Gunungkidul. Sego tiwul sangat mudah dijumpai dipasaran mulai dari pasar tradisonal sampai dengan restoran-restoran mewah di destinasi wisata, khususnya Kabupaten Gunungkidul. Tambahan informasi lagi, saat ini juga telah tersedia tiwul instan lho, bagi Anda yang merindukan makan sego tiwul namun tidak sempat membuatnya sendiri.
Ketahui Kuliner Unik di Jogja Lainya dengan klik disini
Demikian artikel dari kami, semuga bermanfaat. 

Pantai Nguyahan, Perpaduan Air Asin dan Tawar

Pantai Nguyahan.
Bencana Banjir yang terjadi bulan ini (Desember 2017), tidak menyurutkan niat saya untuk terus mempromosikan destinasi wisata di Gunungkidul Yogyakarta. Eksotisme alamnya yang menggoda selalu memacu optimisme bahwa “Di balik tanahnya yang gersang, daerah ini akan terus berkembang dan meningkatkan ekonominya melalui parwisata.” Oleh karena itu, niatan untuk mempromosikan destinasi-destinasi baru menjadi motivasi bagi saya untuk trus menulis dan menggarap blog wisata ini.

Pantai Nguyahan

Pada artikel kali ini saya ingin membagi cerita mengenai satu lagi pantai eksotis di Gunung Kidul yaitu Pantai Nguyahan. Pantai Ngyahan diambil dari bahasa Jawa, “uyah” dalam bahasa Jawa adalah garam. Mungkin karena air lautnya yang asin menjadikan diberi nama nguyahan, ya iya keles  namanya juga air laut hehe. Pantai ini terletak persis disamping Pantai Ngobaran yang lebih dahulu populer. Anda dapat memarkirkan kendaraan di tempat parikir pantai Ngobaran kemudian dapat berjalan kaki melewati jalan setapak menuju pantai Nguyahan.  

Bagi anda wisatawan konvensional, mungkin nama pantai ini terdengar masih sangat asing. Iya benar sekali, Pantai Nguyahan masih kurang populer dibandingkan pantai lain di Gunung Kidul seperti Baron, Krakal  dan lain-lainya. Tetapi bagi anda wisatawan yang mempunyai jiwa petualang, mengunjungi pantai yang masih sangat alami seperti Pantai Nguyahan adalah keistimewaan dan kemewahan tersendiri. Pantai Nyuyahan merupakan pantai yang belum banyak tersentuh, bahkan oleh warga masyarakat Gunung Kidul sendiri.

Pantai Nguyahan

Sejenak melangkahkan kaki di Pantai ini, terlihat warna pasir berwarna kuning kecoklatan, dengan kilau warna laut yang begitu biru mempesona. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa ini adalah surga yang tersembunyi The Hidden Paradise. Garis pantai sepenjang 100 meter dan karakteristik pantainya yang landai sangat cocok untuk sekedar bersantai dan bercengkrama dengan ombak. Ombak nan garang sepertinya mampu dijinakan oleh tebing karang dari pantai sebelah Nguyahan.

Keistimewaan lain dari pantai tak terjamah ini adalah adanya sumber air tawar, penduduk lokal menggunakanya sebagai sumber air untuk memberi makan ternak-ternak mereka. Bermesraan dengan buih ombak yang jinak , menatap ujung cakrawala langit biru yang tidak tahu berakhir dimana. Saya hanya bisa berharap semuga keindahan surgawi ini akan tetap lestari, dapat mensejahterakan masyarakat lokal melalui pariwisata namun tidak mengekploitasi berlebihan hingga berpotensi kerusakan seperti nasib pantai-pantai di daerah lain yang rusak lalu ditinggalkan. 
Foto dari https://www.jejakpiknik.com/pantai-nguyahan/

Pantai Nguyahan

Ingin mencari cinderamata khas Gunungkidul klik disini

Pantai Ngrenehan dan Kearifan Masyarakat Nelayan

Pantai Ngrenehan di Kabupaten Gunungkidul lebih terkenal sebagai desa nelayan. Pantai Ngrenehan menjadi salah satu dari delapan pantai di Gunungkidul yang menjadi tempat bersandar kapal-kapal nelayan tradisional, seperti halnya di Pantai Baron dan Pantai Sadeng.


pantai ngrenehan

Pantai Ngrenehan dapat dijangkau dengan berjalan sekitar satu kilometer dari Pantai Ngobaran dan Pantai Nguyahan. Jadi kalu keluar dari Pantai Ngobaran, cukup dengan berbelok ke arah kanan, lalu ikuti jalan dan plang petunjuk yang ada. Atau jika mengalami kesulitan, tip dari saya adalah “Malu bertanya, atau sesat di jalan, banyak bertanya memalukan.” Hehe Quote diatas hanya gurauan, tentu bertanya pada masyarakat lokal sangat dianjurkan. Penduduk Jogja terutama masyarakat Gunungkidul itu ramah-ramah kok, mereka akan dengan senang hati meluangkan waktu untuk membantu anda di sela-sela pekerjaanya mencari pakan ternak di sepanjang jalur menuju pantai.

Dipantai ini akan sering terdengar kemeriahan ibu-ibu yang menjajakan dagangan berupa makanan yang berbahan dasar hasil laut. Saya sangat menyarankan Anda untuk jangan sungkan  membeli walau hanya sedikit,  sebagai bentuk suport untuk pengembangan pariwisata dan ekonomi lokal.
Pantai lebar pantai Ngrenehan sebenarya sangat kecil, dan nampak lebih tepat adalah sebuah teluk. Pabtainya menjorok ke arah daratan dan tertutup oleh bukit karang di kiri dan kanan. Akan tetapi, sensasi sergawi dan karisma keindahan pantai ini tetap tidak kalah memikat. Kapal-kapal yang berjajar di memenuhi sepanjang garis pantai menjadi pelengkap kesan sebagai pantainya para nelayan. Ya iyalah namanya juga desa nelayan hehe,,,


pantai ngrenehan

Sebagai, pantainya nelayan tentu sudah dilengkapi TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Banyak Ikan segar yang akan dilelang disana dengan harga terjangkau, tetapi kalau ingin melihat fenomena nelayan yang melaut dan berharap membeli ikan hasil tangkapanya langsung jangan berkunjung pada bulan Januari. Karena Bulan Januari merupakan musim penghujan, nelayan menyebutnya dengan musim ombak mati, pada bulan ini nelayan tradisional siana tidak melaut.

Ketahui Pantai Unik Lainya, Klik Disini

Pesona Pantai Sundak Gunungkidul Yogyakarta

Pantai Sundak Kabupaten di Gunungkidul D.I.Yogyakarta
Foto by : http://titik0jogja.blogspot.co.id/2014/11/jalur-kepantai-sundak-wonosari-yogyakarta.html
Pantai Sundak merupakan pantai yang sangat-sangat berkesan untuk saya pribadi. Menulis artikel untuk menceritakan pantai ini disini merupakan suatu moment yang sangat emosional bagi saya, hehe. Artikel ini saya tulis secara flash back, dengan menghadirkan kembali kepingan-kepingan memori di masa lalu untuk dirangkai kembali menjadi bait-bait kata, karena terakhir kali saya berkunjung ke pantai ini pada tahun 2015 lalu J.

Pantai Sundak sangat spesial bagi saya pribadi, karena Pantai sundak merupakan pantai yang pertama kali saya kunjungi dalam cerita perpantaian dalam hidup saya. Tepatnya tidak ingat, tetapi saya masih inget awal mula berkunjung ke Pantai ini pada saat masih SD, mungkin sekitar pertengahan tahun 90an.

Piknik di era zaman plaistosen, eh lebay...
Batapa penasaran dan sangat dag, dig, dug, apakah, bagaimana sih itu rupa dan bentuk pantai itu? For your information, disingkat FYI : Jamanku kecil belum ada yang namanya android guys,,, tak ado yang namanyo olnline-onlinen macam tu, jadi semua yang belum pernah dilihat hanya hadir dalam alam imajinasi...., Sekarang aja anak baru jeger udah bisa browsing internet via mbah google, ngiridotcom... LL

Berangkat berdua dengan semangat 45 bersama ayahandaku tercinta (semuga dikaruniai kesehatan dan rejeki yang berkah, amin!!), saat itu saya masih duduk di depan, diapit dibelakang stang dengan motor bebek Astrea 70. Bisa dibayangkan kan ya,,, betapa kecil saya waktu itu hehe. Dalam fikiran “kok gak sampai-sampai bagaimana sih rupa tu pantai.”

Perjanalan selama 2 jam diliputi penasaran akhirnya sampailah di daerah Tepus Gunungkidul, medekati area pantai, walau belum terlihat itu pantai, tetapi sudah tercium aroma garam dengan desir-desir lirih terdengar ombak disertai sejuknya udara dari laut selatan. Seakan alam pantai memanggil dan mengucapkan selamat datang “Welcome to your imagination, and welcome to your dreamland.” Dan benar saja, batapa sangat kagum ketika pertama kali melihat garis batas cakrawala laut selatan yang membiru diapit pegunungan kars. Betapa sungguh sebuah mahakarya lukisan Tuhan YME yang tak tertandingi. Dan itu bukan mimpi, bukan lagi sebuah imajinasi. That is true paradisse!!!

Pantai sudak waktu itu masih berbentuk pantai perawan dan belum terjamah, rona laut yang jernih dan membiru dengan pasir putihnya begitu masih terekam kuat dalam memori. Di sekitar  pasir pantai adalah kangkung laut yang hidup di dalamnya sebagai habitat kepompong, atau komang, hewan laut yang sering dipakai sebagai mainan anak. Bercanda dengan hewan ini sangat mengasikan, hewan yang sangat pemalu, segera ngumpet jika kita memperhatikanya.

Pantai Sundak dahulu bukanlah yang sekarang, dalam artian kealamiahanya. Akan tetapi, saya masih meyakini karisma dan keelokanya belumlah pudar. Pantai yang bersebelahan dengan pantai Ngandong ini sekarang masih menjadi salah satu primadona wisata pantai di Gunungkidul.

Baru tahu beberapa waktu lalu, bahwa nama pantai sudak konon berasal dari cerita perkelahian dua hewan berkaki empat Asu (anjing) dan Landak. Sehingga dikenal akronim Sundak, yang menjadi nama tenar dari Pantai yang memiliki laut sedalam 20 sampai 30 meter ini. Pantai Sundak juga menghadirkan keunikan berupa goa karang setinggi 12 meter yang didalamnya memiliki sumber mata air tawar alami yang mengalir sejak tahun 1930 akibat proses geologi.

Seiring ketenaran pantai ini, bangunan satu persatu mulai hadir dikawasan pantai untuk medukung pariwissata. Jasa Pelayanan wisata juga mulai bayak disediakan masyarakat lokal, mulai dari restoran, sewa payung hingga sarana toilet. Pada hari libur suasana menjadi lebih meriah dengan hadirnya panggung hiduran rakyat musik dangdut....
Berkunjunglah kesini dan dapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Pantai ini akan selalu menanti Anda.

Penting : Jangan Buang Sampah sembarangan, jaga kelestarianya dengan tidak menjarah satwa maupun aset alami disana, terakhir belilah cinderamata dan produk lokal sebagai bentuk suport untuk pengembangan pariwisata dan ekonomi lokal di daerah.


Baca juga artikel tentang pantai-pantai unik di Gunungkidul dengan Klik Disini

Pantai Banyu Tibo, Mahakarya Sang Pencipta

Pantai Banyu Tibo
Air Terjun Grojokan di Pantai Banyu Tibo, Foto by Wododo Adi Sugito

Tanggal 18 Desember 2017 saya mendapatkan foto kiriman dari sahabat saya Mas Widodo Adi Sugito yang juga diposting di Grup Pecinta Objek Wisata Gunungkidul. Saat saya perhatikan, ternyata foto ini adalah penampakan salah satu pantai alami yang sangat indah di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saya merasa sudah cukup banyak menjelajahi pantai-pantai di daerah itu (Gunungkidul). Akan tetapi, begitu melihat ciri-ciri pantai yang terpampang indah dalam foto tersebut, ternyata saya tidak mengenalinya sama sekali. Hanya decak kekaguman yang mampu saya ucapkan. Ya Tuhan..., begitu indah Pantai ini, hasil mahakarya-Mu, Sang Pecipta sejati dari semesta.

Namanya Pantai Banyu Tibo (kata Mas Widodo). Dalam foto yang di posting, Mas Widodo juga menambahkan komentar “Ayo Mas kita ekplore kesini.” Mengajak eksplorasi ke destinasi wisata alami yang belum terjamah tersebut. Seperti pekerjaan biasanya dari para aktifis komunitas Pecinta Objek Wisata Gunungkidul di kala waktu luang.

Pantai Banyu Tibo
Pantai Banyu Tibo, Foto by Wododo Adi Sugito
Pengin sekali segera menjelajahi pantai ini, bercumbu mesra dengan ombak sambil memanjakan diri melihat kilau birunya laut selatan. Akan tetapi waktu belum berpihak kepada saya. Karena ketika artikel ini saya tulis, saya masih memiliki kewajiban berkerja di Kota Bandung yang belum dapat saya tinggalkan.

Walaupun saya peribadi belum pernah melihatnya secara langsung, namun saya merasa memiliki kewajiban untuk membagi kecantikan Negeri ini kepada pengujung setia blog saya. Bagi saya, Mengenalkan keindahan negeri adalah sebagai wujud Nyata dalam meningkatkan rasa nasionalisme dan kebanggan daerah.

Oleh karena itu saya mencoba untuk mencari tahu di Internet dari para travel writer lain yang barang kali pernah lebih dahulu mengunjungi pantai Banyu Tibo ini. Dan akhirnya, saya menemukan salah satu blog bagus yaitu www.yogyalagi.com. Yah ternyata saya kalah update hehehe....

Pantai Banyu Tibo
Keindahan Pemandangan di Pantai Banyu Tibo, Foto by Wododo Adi Sugito
Berdasarkan informasi, nama Pantai Banyu Tibo berasal bermula dari adanya air terjun di kawasan ini. Pantai ini berada satu daerah dengan Pantai Siung sebelum Bukit Pengilon yaitu di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta

Aksebilitas untuk berkunjung di pantai yang tergolong perawan ini belum tersedia, akses satu-satunya adalah melalui pantai siung. Jika anda tertarik mengujunginya, Anda dapat memarkir kerndaraan di Pantai Siung kemudian melanjutkan berjalan kaki melewati jalan setapak. Dari Pantai Siung silahkan naik ke Bukit Sunset Pantai Siung yang berada di sebelah timur terlebih dahulu dan setelah sampai di puncak paling atas nanti akan ada papan petunjuk arah untuk menuju ke Pantai Banyu Tibo dan Bukit Pengilon. Namun, Anda memang harus mempersiapkan stamina dan berhati - hati untuk menaiki Bukit Sunset tersebut karena memang cukup tinggi. Jaraknya memang masih agak jauh sekitar 300 m, namun selama perjalanan kita bisa menikmati pemandangan yang benar - benar indah dari atas bukit tersebut. Nanti kita akan bertemu papan petunjuk lagi dan ikuti saja jalan tersebut hingga sampai di Air Terjun Grojogan Banyu Tibo yang berada di bawah. Jika ingin menuju ke Bukit Pengilon kita masih harus berjalan lagi namun jika ingin ke Pantai Banyu Tibo harus turun melewati jalan kecil dan harus berhati - hati karena memang cukup curam.

Air Terjun Grojokan
Pantai Banyu Tibo, Foto by Wododo Adi Sugito
Sesampainya dilokasi, Anda akan disuguhi keindahan lukisan lansekap pantai alami yang sangat indah. Dengan diapit beberapa tebing curam yang sangat indah. Anda akan juga akan dibuat takjub oleh indahnya air terjun yang jernih dan segar, Air Terjun Grojokan namanya. Memang jika tidak dimusim hujan airnya tidak terlalu deras namun tetap indah untuk dinikmati. Anda bisa bermain air disini, juga dapat berselfy ria dengan latar belakang pemandangan yang elok. Namun sekali lagi wajib untuk berhati - hati karena batu - batunya juga cukup licin. Silahkan coba untuk mengunjunggi Pantai Banyu Tibo Gunungkidul dan menikmati anugerah Tuhan yang indah dan tak akan pernah ada habisnya. Selamat Berlibur.

Pesan dari saya : Be carefull, Jaga alam dengan tidak membuang sampah dan kegiatan yang merusak lainya.

Salam pariwisata ....

Panduan Berwisata Pantai di Yogyakarta


Seperti umum diketahui bahwa kawasan geografis Daerah Istimewa Yogyakarta (D.I.Y) terletak di bagian pinggir selatan Pulau Jawa. Dengan kondisi demikian, tidak heran bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki garis pantai yang panjang dan sangat indah. Bahkan sebagian besar telah menjadi daya tarik wisata andalan bagi pariwisata daerah.
Selain destinasi wisata pantai yang sudah sangat terkenal, contohnya Pantai Parangtritis. Sebenarnya masih banyak surga-surga tersembunyi, atau pantai-pantai indah yang belum banyak diketahui wisatawan. Terutama oleh wisatawan yang berasal dari luar daerah. Bahkan, penduduk asli Yogyakarta-pun juga masih banyak yang awam dengan nama-nama dastinasi wisata pantai baru yang akhir-akhir ini bermunculan. Maka, jika ada banyak pertanyaan dari calon wisatawan dari daerah lain, saya sendiri sebagai warga asli Yogyakarta terkadang masih bingung unntuk menjawabnya, misalnya “Mas,untuk menuju pantai A caranya bagaimana ya, saya mau berwisata ke Jogja nih?” atau yang lebih gampang “Mas Pantai A itu letaknya dimana ya?”... jawabnya saya biasanya “Ehms anu”, “itu...” “wah saya sendiri juga kurang tau e mbak....eh.” Mungkin begitulah terkadang problematika kita menjawab interogasi calon wisatawan yang lagi niat-niatnya berwisata ke Jogja hehe...
Berawal dari banyaknya pertanyaan serupa dari rekan saya di Berbagai daerah mengenai wisata di Yogyakarta, maka artikel blog kali ini saya tulis sebagai panduan persiapan berwisata secara mandiri bagi Anda calon calon wisatawan di Yogyakarta yang merindukan keindahan pantai Yogyakarta. Atau bagi Anda penduduk asli Yogyakarta yang ingin sedikit membantu dalam memberikan panduan berwisata pantai di Yogyakarta.
Yogyakarta memiliki 5 Kabupaten/Kota Madya diantaranta : Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Kulonprogo. Akan tetapi, jika berbicara pantai maka sebaiknya perhatian kita kita fokus kepada 3 kabupaten berikut :  Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Bantul, karena hanya ketiga kabupaten diatas yang memiliki kawasan pantai.

Kabupaten Gunungkidul
Kabupaten Gunungkidul merupakan kabupaten terluas di Yogyakarta dengan Wonosari sebagai ibu kotanya. Kabupaten ini berbtasan dengan Provinsi Jawa Tengah di Utara dan Timu, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman menjadi batas barat. Sedangkan di selatan dibatasi oleh Samudera Hindia.
Oleh karena itu, kabuoaten ini memiliki garis pantai yang cukup panjang. Keindahan dan keunikan utama dari pantai-pantai di Gunungkidul adalah ciri khas pasir pantainya yang mayoritas berwarna putih bersih, beberapa pantai berwarna merah bata, hingga kuning. Ciri khas lainya adalah perpaduan lansekap keindahan pantai yang diapit dua bukit kapur atau kars yang masih alami. Serta beberapa yang memiliki muara sungai air tawar dari dalam goa-goa kars seperti di Pantai Baron. Ciri lain dari pantai disini adalah ombaknya yang sedikit ramah utuk sekedar bermain ombak, beberapa daerah juga dapat digunkan untuk menyelam/ snorkling, mengingat daya tarik fauna laut dipantai ini sangat kaya dan indah seperti: ikan laut, komang, bintang laut, bulu babi, koral dan lain sebagainya.
Karakteristik Pantai di Gunungkidul
Di Gunungkidul juga masih terdapat pantai-pantai perawan yang tersembunyi dan belum terjamah oleh kegiatan ekonomi manusia, tentunya akan sangat menantang bagi wisatawan yang berjiwa adventure, serta  para pecinta alam. Dalam teori pengembangan wisata pantai, dengan keindahan daya tarik diatas maka saya rasa pantai di Gunungkidul ini masuk kedalam grade A. sangat recomended...
Untuk mencapai destinasi-destinasi wisata pantai di gunung kidul secara umum dapat dijangkau dari Kota Yogyakarta. Menggunakan motor/mobil pribadi, atau travel elf menuju wonosari. Jalur paling mudah : Jogja ke Jalan Wonosari, melewati terminal induk masuk arah pantai ikuti plang. Atau naik angkutan umum : Yogya (dari terminal giwangan ke wonosari, dari wonosari ke Paliyan.
Untuk penginapan dapat menggunakan penginapan-penginapan, atau homestay yang terdapat di pantai-pantai utama seperti Pantai Kukup, Krakal, Baron dll.
Untuk waktu keseluruhan menikmati seluruh pantai-pantai di sekitar Gunungkidul saya rekomendasikan untuk mengalokasikan waktu libur anda antara 3 sampai 4 hari. Saya anjurkan juga bawa jaket, karena kawasan ini kalau malam sangat dingin, serta bawalah obat-obatan pribadi Anda dari rumah.
NB: tidak semua pantai lain di gunungkidul tersedia sarana wisata, karena beberapa masih sangat-sangat alami. Namun inilah sisi keistimewaanya bagi Anda petualang sejati yang rindu kemewahan alam yang alami....

Kabupaten Kulonprogo
Kabupaten Kulonprogo merupakan Kabupaten yang memiliki ibu kota Wates. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sleman dan Bantul disisi Timur. Kabupaten Purworejo disisi Barat dan Samudera Hindia disisi selatan.
Pantai ini memiliki pasir hitam, khas pantai di Dataran Rendah yang memiliki Gunung Berapi. Pantai yang hitam berasal dari endapan pasir-pasir Merapi yang dibawa oleh sungai/kali Progo.
Secara umum, pantai kawasan ini Memiliki bentang luas dan beberapa bervegetasi tanaman Cemara Laut. Ada juga beberapa kawasan Pantai yang memiliki ekologi bakau. Daya Tarik Kehidupan nelayan mayoritas menjadi daya tarik wisata di daerah ini.

Aksebilitas Menuju pantai-pantai di Kulonprogo secara umum dapat dijangkau dari Kota Yogyakarta menuju arah Kulonprogo. Anda dapat menggunakan moda transportasi bus lokal dari Terminal Giwangan dan Pasar Gamping). Naik Bus yang ke arah Brosot/ Sarandakan.
Saya merekomendasikan untuk mengalokasikan waktu libur anda, 2 sampai 3 Hari untuk berwisata di Pantai-pantai Kulonprogo. Untuk menginap dapat menggunakan sarana wisata di Pantai Glagah.

Kabupaten Bantul
Kabupaten Bantul memiliki ibu kota di Kota Bantu sendiri. Kabupaten ini memiliki batas batas wilayah sebagai berikut : barat berbatasan langsung dengan Kabupaten Kulonprogo, Timur Berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunung Kidul dan Bagian utara berbatasan langsung dengan Kota Jogja. Samudera Hindia di bagian selatan menjadi batas langsung Kabupaten Bantul di selatan.
Secara umum daya tarik wisata bantul tidak jauh beda dengan daerah Kulonprogo yang mengandalkan perkampungan nelayan dan beberapa vegetasi cemara udang sebagai peneduh. Akan tetapi, Kabupaten Bantul memiliki salah satu icon wisata Pantai Parangtritis yang sangat terkenal dengan tradisi Nglarungnya, yaitu tradisi slemetan dalam Budaya Jawa yang diperingati setiam malam satu Suro. Selain itu, adanya legenda mistis Ratu Laut Selatan atau Nyi Roro Kidul yang masih sangat melekat dalam kehidupan masyarakat di pantai selatan ini menambah eksotismenya. Harap berhati-hati bermain di pantai-pantai kawasan Bantul karena sangat mematikan, karena kekuatan ombak dan arus baliknya yang sangat kuat. Sangat tidak recomended untuk berenang dan bermain ombak.

Rute menuju pantai ini paling mudah, cukup menggunakan bus umum atau kendaraan pribadi menuju arah selatan melewati Jalan Parangtritis. Tinggal lurus terus dan sampai. Sarana penginapan sudah sangat banyak disediakan masyarakat disini.
Ingin tahu wisata pantai yang menarik di Jogja ikuti postingan-postingan berikutnya, Klik Lanjut setiap akhir artikel..