Thursday, August 13, 2020

Berwisata ke Dusun Bambu, Kawasan Lembang, Bandung


Danau Buatan dan cottage, sebagai salah satu daya tarik utama di Dusun Bambu

Lelah dengan kepenatan selama bekerja di Kota Kembang (Bandung) yang semakin lama semakin sesak oleh hiruk-pikuk bisnis dan kemacetan. Pada dasarnya saya adalah orang desa, yang pada saatnya akan merindukan ketentraman kehidupan khas pedesaan. Untuk melepas kepenatan kerja saya merasa butuh berlibur sejenak, mencari destinasi wisata yang memiliki lanscape kehidupan alam pedesaan yang masih alami.


Embun pagi di Dusun Bambu

Karena saya termasuk orang baru di Kota Kembang, serta belum begitu mengenal destinasi wisata daerah ini, maka saya menyempatkan bertanya kepada rekan saya Nia yang juga mahasiswi saya di salah satu PTS di Bandung. Saya mendapatkan beberapa alternatif saran destinasi wisata yang bertema alam pedesaan, dan saya tertarik untuk mencoba salah satu  destinasi wisata di daerah Lembang yaitu Dusun Bambu. 
Dusun Bambu yang terletak di Jalan Kertawangi (Komplek Komando), Cisarua Bandung Barat. Dapat ditempuh melalui Jalan Kolonel Masturi KM 11. Aksebilitas untuk mencapai Dusun Bambu bisa melalui beberapa rute berikut ini:

1. Tol Pasteur -> Ledeng -> Jalan Sersan Sodik -> Jalan Kolonel Masturi
2. Tol Padalarang -> Cimahi -> Jalan Kolonel Masturi
3. Tol Pasteur -> Ledeng -> Lembang -> Jalan Kolonel Masturi

Menurut rekan saya, suasana di Dusun Bambu masih sejuk, tenang, dan alami dengan pemandangan yang indah. Serta  ada satu lagi, kalau masih pagi ada embun, sehingga saya merasa tempat ini cukup unik dan menarik untuk dicoba.




Masyarakat Lembang berjualan bunga

Minggu tanggal 8 Januari 2017 pukul 08.30 WIB, kami memutuskan untuk berangkat bersama ke Dusun Bambu. Perkiraan berangkat dari Antapani (dekat Stasiun Kiara Condong) sampai ke Dusun Bambu menghabiskan waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam perjalanan. Jarak yang cukup lumayan jika ditempuh dengan bersepeda motor. Namun, diluar dugaan pemandangan Kawasan Lembang selama perjalanan sungguh sangat mengagumkan.



Masyarakat Lembang berjualan bunga

Memasuki wilayah Lembang, kita akan disambut dengan keindahan pemandangan alam pegunungan yang menjulang sangat tinggi di berbagai penjuru. Selama perjalanan juga dapat melihat pemukiman penduduk yang mayoritas berprofesi sebagai petani tanaman hias, khususnya bunga, di kiri dan kanan jalan selama perjalanan di Lembang. Dengan suguhan pemandangan ini, rasa lelah perjalanan terbayarkan, dan waktu 2 jam perjalanan menjadi tidak terasa.
Berburu spot foto di Dusun Bambu



Pegunungan di Lembang

Sampai di Dusun Bambu rasa lelah terbayarkan, kita akan segera disuguhi pemandangan alam yang sangat indah. Meskipun kita sampai di lokasi agak kesiangan, serta gagal menemukan kabut/ embun, namun tetap tidak berkurang rasa cinta terhadap keindahan destinasi wisata alamnya serta kesejukanya.
Hal pertama yang kami lakukan di lokasi ini adalah berfoto di rumah pohon. Kami merasa tertarik oleh keunikan rumah pohon di Dusun Bambu yang dibuat dengan konsep yang cukup unik. Wahana tersebut dibangun pada pohon utama, pohon kayu putih. Masing masing dihubungkan oleh jembatan besi serta dirambati oleh tanaman rambat.



Rumah pohon di Dusun Bambu Bandung

Kedua, spot foto yang tidak kalah unik adalah  danau buatan. Telaga atau danau buatan di Dusun Bambu sangat menawan, salain lanscape alam sekitar yang mendukung, cottage atau deretan gazebo-gazebo di pinggiranya menjadi penghias background foto. Sangat menawan untuk sekedar menjadi hiasan walpapper atau foto instagram Anda. Spot spot lain adalah maskot berupa tugu yang terbuat dari kumpulan bambu yang disusun sedemikian rupa.

Selain keindahan alamnya, fasilitas akomodasi dan sarpras yang ada juga cukup memanjakan mata setiap pengunjung, antara lain: warung makan/restoran, caffe, play ground, mobil antar untuk membantu berkeliling area, serta tersedia mushola dan toilet yang cukup bersih.
Demikian story kami, tentang wisata di dusun bambu, semuga memberi inspirasi referensi wisata bagi pembaca.


Danau Buatan sebagai spot fotograi yang sangat Indah


Sungai dan bebatuan di Dusun Bambu yang dikelilingi bungan warna warni memanjakan mata


Jembatan kecil, spot menarik untuk foto di Dusun Bambu, Lembang, Bandung


Tempat istirahat, cukup nyaman untuk bersantai
Dusun Bambu
Rumah pohon ala Dusun Bambu, Lembang, Bandung


Nia Kurniawati
Eksotisme Danau Buatan di Dusun Bambu, Lembang, Bandung

Dusun Bambu
Lutung Kasarung (Rumah Pohon di Dusun Bambu)

Nia Kurniawati
This is Nia


Thursday, July 9, 2020

Sam Po Kong Temple: Traveling to Semarang, Central Java, Indonesia

Sam Po Kong temple was formerly called Gedung Batu. This building cannot be separated from the historical story of Admiral or General Zheng. Admiral Zheng himself is a Chinese with the original name Zheng He, or what is then often also referred to as Admiral Cheng Ho. This admiral is Muslim. This building is called Gedung Batu because the shape of the building is on the rock hill.

Actually, this place was not originally a temple in the real sense (place of worship). But only the designation by the community. This building is actually a site from Admiral Cheng Ho. But people often call it pagoda because the Chinese architectural style is very thick felt here. At the same time, Admiral Cheng Ho himself is Muslim. One proof is the existence of an article that has the meaning "Let's silence by listening to reading the Koran".

Admiral Cheng Ho himself was a man who was travelling to trade. He lived in the Ming Dynasty. Admiral Cheng Ho is also synonymous with one of the mosques in East Java which is now also frequently visited as a Tourist Attraction in Surabaya. Sam Po Kong temple in Semarang itself was once the location of worship of Admiral Cheng Ho and his men who had embraced Islam. However, at this time, this place has been converted into a place of warning and worship by Confucius. Apart from being a place of worship, Sam Po Kong Temple is now increasingly visited as a Tourist Place in Semarang. Even many tourists who visit there from foreign tourists. was formerly called Gedung Batu. This building cannot be separated from the historical story of Admiral or General Zheng. Admiral Zheng himself is a Chinese with the original name Zheng He, or what is then often also referred to as Admiral Cheng Ho. This admiral is Muslim. This building is called Gedung Batu because the shape of the building is on the rock hill.

Actually, this place was not originally a temple in the real sense (place of worship). But only the designation by the community. This building is actually a site from Admiral Cheng Ho. But people often call it pagoda because the Chinese architectural style is very thick felt here. At the same time, Admiral Cheng Ho himself is Muslim. One proof is the existence of an article that has the meaning "Let's silence by listening to reading the Koran".

Admiral Cheng Ho himself was a man who was travelling to trade. He lived in the Ming Dynasty. Admiral Cheng Ho is also synonymous with one of the mosques in East Java which is now also frequently visited as a Tourist Attraction in Surabaya. Sam Po Kong temple in Semarang itself was once the location of worship of Admiral Cheng Ho and his men who had embraced Islam. However, at this time, this place has been converted into a place of warning and worship by Confucius. Apart from being a place of worship, Sam Po Kong Temple is now increasingly visited as a Tourist Place in Semarang. Even many tourists who visit there from foreign tourists.

Sam Po Kong Temple

Sam Po Kong Temple

Sam Po Kong Temple

Sam Po Kong Temple

Sunday, July 5, 2020

Bersilaturahmi dengan Komunitas Jamblang Gentong dan Pengurus Desa Wisata Karang Tengah

Beberapa waktu yang lalu (5 Juli 2020) saya bersama tim dolan Dimas Setyo Nugroho dan mahasiswi saya Florinnata Widjaja seperti biasa  hobby blusukan ke desa-desa mencari ide riset, atau insipirasi hal apapun yang dapat dilakukan untuk berbagi kebaikan. Kali ini Kami berkesempatan untuk bersilaturahmi, dan berbagi cerita dengan Komunitas Jamblang Gentong Pengelola Taman Dolanan dan Bapak Sugiyanto pengurus Desa Wisata Karang Tengah, Imogiri, Bantul, D.I.Yogyakarta. 

Kami berbincang-bincang dengan Mas Soni, tokoh komunitas Jamblang Gentong serta selaku pengurus Taman Dolanan. Komunitas Jamblang Gentong (Taman Doalanan) memiliki visi untuk menjadi tujuan wisata budaya berbasis pelestarian permainan tradisional. Dari hasil diskusi dan observasi kami, Taman Dolanan memang cukup menarik dan potensial menjadi destinasi wisata. Selain terletak ditengah pedesaan yang masih asri yang didukung dengan banyaknya tanaman Jamblang (duwet) sebagai icon. Taman Dolanan juga memiliki aset kebudayaan yang cukup lengkap. Pemuda yang tergabung dalam Komunitas Jamblang Gentong masih memiliki kesadaran akan pelestarian budaya, masing-masing memiliki keterampilan seni budaya lokal yang unik, termasuk pengetahuan yang cukup luas dalam hal permainan tradisional seperti dakon, enggrang, layangan, gobak sodor, dan lain sebagainya. Akan tetapi, untuk menjadi destinasi wisata yang baik harus didukung dengan kepedulian kita bersama untuk membantu dalam mengemas potensi tersebut menjadi sebuah daya tarik wisata yang unik, asli dan tentunya atraktif. 

Komunitas Jamblang Gentong
Foto-bareng Komunitas Jamblang Gentong

Taman Dolanan
Btw cuma main malah dapat maem gaes...

Komunitas Jamblang Gentong

Setelah selesai berbincang-bincang di Taman Dolanan, Kami melanjutkan perjalanan ke Desa Wisata Karang Tengah. Disini kami bertemu ketua pengelola yang super ramah, namanya Bapak Sugiyanto. Menurut cerita beliau Desa Wisata Karang Tengah sempat berada pada masa jayanya. Sekitar tahun 2009 lalu, banyak tourist dari Negara Jepang yang berlibur di Desa Wisata ini. Namun, kondisi saat ini disusul dengan kondisi Pandemi COVID 19, membuat kegiatan wisata disini menjadi  lesu (tetap semangat bapak). 
Desa Wisata Karang Tengah juga sangat potensial, desa wisata ini memiliki pemandangan alam yang sangat indah yaitu di bukit BNI (dinamakan BNI karena dulu ada sponsor), yang dikelilingi oleh perkebunan jambu mete. Karena hari sudah mulai gelap, kami membatalkan niat untuk sampai ke puncak bukit BNI. Cenderamata unik terbuat dari kepompong ulat sutra emas juga menjadi daya tarik tersendiri.

Foto Bersama Bapak Sugiyanto

Kerajinan Kempompong Ulat Sutra Emas
Kerajinan Kempompong Ulat Sutra Emas

Proses Pembangunan Taman Dolanan (Abaikan yang dimotor)

Produk Ecoprint

Thursday, July 18, 2019

Manfaat dan Bahaya Media Sosial bagi Destinasi Pariwisata

Seiring kemajuan zaman dan teknologi membuat manusia semakin terkoneksi dan semakin dekat. Begitu pula dalam hal kemajuan sosial media, atau anak muda sering menyebutnya sebagai SOSMED. Melalui sosial media yang sangat canggih seperti instagram, facebook, twiter dan lainnya yang ada saat ini, informasi bisa menyebar dengan sangat cepat, seingga berita apapun dapat muncul dan dalam sekejab dibaca melalui sosial media.

Pura Lempuyang, Sumber: Tribunnews
Jika dikaji secara objektif, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya sosial ada sisi untung dan ruginya. Sisi keuntungan dari segi bisnis adalah sosial media dapat digunakan sebagai media promosi dengan jangkauan tidak terbatas, juga sebagai alat komunikasi pemasaran yang efektif serta efisiens. Namun sisi negatifnya, sosial media juga dapat dipakai oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebar berita palsu (hoax), baik dengan disadari atau tidak sengaja.

Kesalahan yang disengaja seperti menyebar berita palsu sudah banyak dibahas orang lain. namun disini saya akan menjelaskan kesalahan pengguna media sosial yang tidak disengaja. Dalam pemasaran pariwisata kesalahan tidak sengaja adalah dengan memposting foto destinasi yang tidak sebenarnya di Media Sosial, atau memposting foto dengan tingkat editan yang terlalu dramatis, atau dengan berbagai trik lainya sehingga membuat orang sangat tertarik untuk berkunjung. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini di Pura Lempuyang Bali yang beritanya saya kutip langsung dari media  kompas.com berikut:

Seorang wisatawan mancanegara (wisman) Polina Marinova kecewa ketika berburu foto ke Pura Lempuyang di Kabupaten Karangasem, Bali. Bayangannya akan foto-foto cantik pengguna Instagram di gerbang Pura Lempuyang, ternyata hanyalah ilusi. Ia berpikir bahwa di area pura terdapat kolam atau genangan air untuk memantulkan bayangan para pengunjung yang berfoto di gerbang.

"Itu sungguh kelihatan luar biasa, tetapi tentunya di Instagram tidak ada satu pun orang yang menuliskan bahwa itu nyata. Jadi saya berasumsi ada air di sana," 

Nyatanya ketika sampai ke Pura Lempuyang, Marinova justru melihat jasa potret ilusi dengan cara menaruh cermin di bawah kamera smartphone. Sehingga pantulan pengunjung yang berfoto di Pura Lempuyang terlihat jelas.


"Bukti bahwa influencer Instagram merusak semuanya. Harapan dan mimpiku rusak ketika menemukan 'air' di Gerbang Surga sebenarnya adalah lapisan cermin di bawah iPhone," tulis Marinova di Twitter

Pendapat saya, "Walupun sangat mempesona toh foto tersebut bukan foto sebenarnya, sehingga wajar jika wisatawan kecewa, ingat dalam hal pengelolaan daya tarik wisata alam ataupun budaya keaslian dan otentisitas daya tarik adalah hal yang utama. Terutama bagi wisatawan-wisatawan mancanegara yang sudah sangat teredukasi dengan baik" (baca buku tentang teori daya tarik wisata)"


Pura Lempuyang Bali
Komplain Pura Lempuyang Bali, Sumber: kompas.com


Disini saya tidak menyalahkan pihak manapun, karena memang ini kesalahan tersebut tidak disengaja, atau akibat kurangnya pengetahuan pelaku usaha. Akan tetapi, memang hal tersebut bisa berdampak negatif, karena hal tersebut dapat membuat seakan-akan wisatawan ditipu, padahal mereka sudah datang jauh-jauh dari negara asalnya, namun tidak memperoleh seperti apa yang mereka bayangkan. Editing mungkin memang menjadi penting untuk mempermanis iklan dalam segi pemasaran. Akan tetapi, editing yang dilakukan jangan sampai terlalu berbeda jauh dengan kondisi aslinya.

Efek negatif media sosial lainya yaitu penyebaran berita yang menjadi tidak terbendung, tentu hal ini akan membuat wisatawan berbondong-bondong menuju destinasi karena tertarik dengan keindahan foto di media sosial. Tentu hal ini juga bisa menguntungkan jika bisa dikelola dengan baik, akan tetapi bisa juga menjadi sangat merugikan karena wisatawan masal yang datang tidak terkontrol akan membuat destinasi yang dikunjung menjadi rusak.  Masih ingat tentang kasus kerusakan daya tarik bunga amarylis di Gunungkidul yang pernah saya tulis? Jika belum, Anda masih dapat membacanya disini. Kasus ini dapat terjadi akibat pengelola destinasi wisata masih belum siap, karena memang pada dasarnya manajemen belum ada, apalagi bicara tentang carring capacity. Padahal, berita tentang keindahan bunga amarylis khas Gunungkidul ini sudah santer menjadi perbincangan di media sosial untuk menjadi destinasi yang wajib dikunjungi pada saat itu.

Efek seperti diatas, dapat menjadi lebih berbahaya jika yang kita kelola adalah destinasi wisata alam, karena sekali alam atau lingkungan yang rusak maka tidak pernah dapat diperbaiki seperti semula. Selain kerusakan alam, pertimbangkan juga kerusakan nilai sosial budaya bagi masyarakat, karena ini juga berbahaya. Keruskan nilai moral dapat terjadi akibat masyarakat lokal terpengaruh (meniru) budaya yang datang dari luar (budaya wisatawan), yang sesungguhnya tidak sesuai (pantas) dengan nilai sosial-budaya masyarakat lokal. Jadi, mari kita bijak dalam mengelola pariwisata, pastikan semuanya dapat kita kontrol dan dimajamen dengan tepat. Terutama kontrol dalam hal mempromosikan destinasi kita, jangan terlalu bernafsu untuk dapat tenar sebelum semuanya siap ...
Salam pariwisata


Wednesday, July 17, 2019

Camping di Pantai Kesirat : Lokasi Ideal bagi Penikmat Senja



Camping atau kemah telah menjadi gaya hidup anak muda dalam beberapa tahun belakangan ini. Camping menjadi ajang mencari jati diri bagi sebagian anak muda. Saya katakan demikian karena saya sendiri telah membuktikannya, beberapa tahun terakhir hampir setiap bulan sekali saya pulang pergi Jogja-Bandung menggunakan kereta. Setiap akhir pekan saya selalu barengan dengan pemuda-pemudi yang membawa tas ransel besar-besar, setiap ditanya kana kemana? mereka berkata jika ingin mendaki gunung. Biasanya ketika ditanya mendaki kemana? Mereka kebanyakan mengatakan ke Semeru.

Pantai Kesirat Gunungkidul Yogyakarta
Camping di Pantai Kesirat, Sumber : Toyok Yok
Trend ini kemumngkinan juga dipicu oleh banyaknya foto sunset, sunrise, lautan awan dan pemandangan lainnya di media social, dengan latar belakang yang menandakan bahwa foto tersebut adalah keindahan alam yang didapat dengan mendaki gunung. Selain untuk mendapatkan foto, pengalaman hidup tinggal di alam (camping) juga menjadi motivasi tersendiri bagi anak muda yang sedang mencari jati diri ini, serta mensyukuri semua nikmat tuhan YME yang telah memberikan alam yang sungguh maha indah ini. Akan tetapi, mendaki gunung untuk camping bukanlah perkara yang mudah, terutama bagi pemula, karena dibutuhkan persiapan yang matang, baik mental, fisik, maupun peralatan yang memadahi. Oleh karena itu dalam artikel ini saya ingin merekomendasikan tempat camping yang sedikit berbeda, yaitu di pantai dimana tidak diperlukan banyak kegiatan mendaki, namun tetap dapat memperoleh keindahan alam yang mewah.

Pantai yang saya maksuk ini bernama Pantai Kesirat. Jangan membayangkan tentang hamparan pasir putih, gemericik ombak yang menyapu bibir pantai, atau hewan-hewan laut kecil yang berlarian diantara pasir serta renik sisa karang yang dihantam ombak. Karena, Pantai Kesirat tidak menawarkan pemandangan seperti itu. Pantai ini justru mempunyai pesona tersendiri lewat panorama senja yang luar biasa indah dengan pohon abadi sebagai ikon yang menegaskan bahwa di pantai ini tidak pernah kehabisan cerita tentang senja. Pantai Kesirat memiliki satu pohon oleh penduduk setempat dan para pengunjung disebut sebagai pohon abadi. Pohon tunggal yang tumbuh tepat di bibir tebing itu terlihat begitu mencolok dan mencuri perhatian. Saat musim penghujan, pohon akan dipenuhi dengan daun hijau yang rimbun. Namun saat musim kemarau tiba, satu persatu daun akan berguguran hingga menyisakan batang pohon dan ranting-ranting yang nyaris gundul. Kehadiran pohon tersebut menjadi begitu menarik dan semakin mempercantik pemandangan di Kesirat saat senja tiba. Wisatawan pun biasanya tak lupa untuk berpose di bawah pohon tersebut.

Pantai Kesirat Gunungkidul Yogyakarta
Suasana Malam Pantai Kesirat, Sumber : Toyok Yok
 Tentu saya sangat merekomendasikan pantai ini, tidak rugi bagi Anda untuk kemah disini sekedar menikmati senja, Pesona malam hari di pantai ini pun tidak kalah indahnya. Deburan ombak yang menghantam tebing karang menjadi lullaby yang akan menemani tidurmu. Anda pun bisa membuat api unggun dan mengadakan barbeque party. Lokasi pantai yang jauh dari areal perkampungan membuatmu bebas untuk bernyanyi sekencang-kencangnya hingga dini hari. Eits, tapi sesudah camping dan membuat api unggun pastikan sebelum meninggalkan tempat ini semua sampah Anda bersihkan ya! Bagi Anda yang sedikit bosan camping di gunung, camping  di pantai ini saya jamin Anda akan mendapatkan pengalaman yang sangat berbeda J.

Pantai Kesirat Gunungkidul Yogyakarta
Foto Suasan Malam, Sumber : Toyok Yok
Pantai Kesirat ini terletak di Dusun Wiloso, Desa Girikarto, Kecamata Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Lokasinya tak jauh dari Pantai Gesing dan Pantai Wohkudu. Dari pusat Kota Yogyakarta Pantai Kesirat bisa ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan rute Jogja – Imogiri – Panggang. Jika melalui rute Jalan Wonosari – Patuk, maka waktu yang Anda perlukan akan jauh lebih lama. Sepanjang jalan menuju akan ditemani bentang alam yang indah berupa bukit-bukit, lembah, serta hutan di kanan kirinya.

Lulusan Pariwisata KOK INGIN JADI PNS? simak dulu ulasanya disini.

Pastikan kendaraanmu dalam kondisi prima, sebab rute antara Selopamioro hingga Panggang berupa tanjakan terjal yang berkelok. Jika Anda sudah tiba di daerah Panggang, Anda bisa mencari petunjuk arah menuju Pantai Gesing, setelah itu Anda akan menemukan petunjuk arah menuju Pantai Kesirat. Andai Anda bingung, tanyakanlah rute kepada penduduk lokal yang akan membantumu dengan ramah. Pantai ini tersembunyi di balik bukit Karst dan semak belukar, anda bisa menuju kesana dengan sewa bus jogja jika bawa rombongan atau sewa mobil jogja lepas kunci jika dengan keluarga.

Pantai Kesirat Gunungkidul Yogyakarta
Foto Suasan Senja di Pantai Kesirat, Sumber : Toyok Yok

Sebagai tambahan informasi bahwa harga tiket di Pantai Kesirat dikenakan biaya, Rp. 3.000,- untuk motor dan Rp. 5.000,- untuk mobil, harga ini belum termasuk parker. Demikian informasi mengenai Pantai Kesirat. Sampai Jumpa di Jogja …

Foto Siang Hari, Sumber : https://traveloskyholiday.com

Sunday, July 14, 2019

Gudangan : Makanan Khas Jawa yang Penuh Filosofi

Gudangan
Gudangan Makanan Tradisional, Foto by : Anderas Seluas Samodra
Gudangan adalah makanan yang terdiri dari aneka sayuran yang direbus dan disajikan dengan sambal kelapa parut. Menu berbahan dasar sayuran ini begitu lengkap dan memiliki cita rasa Indonesia. Gudangan tak seperti sayur pada umumnya yang hanya terdiri satu macam sayur saja, namun gudangan bisa beraneka ragam bahan sayuran.
Bagi orang-orang Jawa khususnya Yogyakarta dan Jawa Tengah yang lahir sebelum zaman penjajahan (hehe gak tau mulainya kapan), sampai pada pertengahan tahun 90 an tentu tidak asing dengn nama kuliner khas yang satu ini. Gudangan biasanya disajikan dalam bentuk tumpeng yang dibagikan secara gratis oleh seseorang kepada masyarakat terutama anak-anak kecil pada zaman dahulu untuk memperingati neton anaknya (hari lahir dalam penanggalan jawa), dikenal dengan tradisi Bancaan, beberapa daerah menyebutnya tradisi Momongan atau Momong. Tradisi bancaan adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME atas bertambahnya umur anak dan nikmat yang diberikan. Selain itu, gudangan juga muncul pada tradisi hajatan tertentu oleh masyarakat seperti syukuran khusus, selapanan dan selamatan dalam berbagai bentuk. Saya pernah menemui bancaan sebagai rasa syukur atas lahirnya Sapi, hehe. Ya sapi, cow. Biasanya untuk momongan sapi, yang dibagi-bagi ditambah minuman es dawet yang dibungkus plastik kecil-kecil. Selain itu, dahulu bancaan dan gudangan juga pernah saya temui untuk tradisi slametan dan syukuran atas rejeki berupa kepemilikan kecaraan bermotor, waow serba guna.... its about Gudangan !!!.
Gudangan
Makanan Tradisional Gudangan, Foto by : Anderas Seluas Samodra
Tradisi Bancaan merupakan sepesial moment yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak generasi old pada sore hariKarena bakal dapat Nasi Gudang, 1 porsi gudangan dengan potongan telur seiprit dibungkus daun, “Bukan tentang banyaknya, tapi kebersamaan, kemeriahan, dan keistimewaanya haha. Pada masa kecil dahulu, tradisi ini akan kita ketahui saat ada anak yang undang-undang (dipercaya untuk mengundang), kemudian meneriakanya kepada kumpulan anak yang sedang bermain “woyy ada momong di rumah si Anu...”. Lalu semunya berbondong-bondong menuju ke tuan rumah acara, kemudian tuan rumah atau sesepuh membacakan doa dan dibagi dah itu tumpeng gudangan (base on true story, dilarang protes hehe).
Akan tetapi Tradisi ini sudah mulai hilang di zaman sekarang, “Mungkin beberapa daerah tetap menjaga tradisi ini....” Sedih...,,, karena sudah tidak bisa dapat gudangan gratis. Eh iya, udah bangkotan gak boleh ikutan bancakan hehe. Bercanda, yang bikin sedih adalah mulai lunturnya tradisi ini. Tradisi yang penuh makna, ajaran, dan juga filosofi.
Berbicara soal filosofi makanan khas “Gudangan,” sebenarnya dilosofinya baru saya ketahui akhir-akhir ini lho, baru kemarin sore, alaupun makan-makanya sudah sejak jaman old...
masakan tradisional
Makanan Tradisional Gudangan, Foto by : Anderas Seluas Samodra
Selain kelezatan begitu menggoda, atau “Mak Nyus” (meminjam istilah Alm. Bapak Bodan), Gudangan ternyata syarat dengan nilai nilai filosofi. Meskipun saya bukan ahli filsafat seperti Plato, tetapi tetap saya akan menjelaskanya karena saya telah membacanya di  Sumer http://www.apakabardunia.com/2011/03/mengenal-dan-mengetahui-filosofi-yang.html :

Nasi putih
Biasa saat tradisi bancaan dibuat menyerupai kerucut atau disebut tumpeng (kecil), gunungan (jika bentuknya gede, itu lho seperti dalam tradisi grebek sekatenan). Gunungan yang melambangkan tangan merapat menyembah kepada Tuhan. Sedangkan, nasi putih melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal. Bentuk gunungan ini juga bisa diartikan sebagai harapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin “naik” dan “tinggi”.



Ingkung: ayam jago (jantan, tentunya sudah dimasak)



Dimasak utuh dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental), merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa). Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk yang dilambangkan oleh ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri.

Telur Rebus bersama Kulitnya

Telur direbus utuh, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong, sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu (Untuk dibagi dalam bancaan dipotong kecil kecil bersama kulitnya). Hal tersebut melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan. Piwulang jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan, dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat (fitrah) yang sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

Sayuran dan Urab-uraban

Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap. Sayuran-sayuran tersebut juga mengandung simbol-simbol antara lain: 
  1. Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, tercapai. 
  2. Bayam (bayem) berarti ayem tentrem, 
  3. Taoge/cambah yang berarti tumbuh, 
  4. Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan/inovatif, 
  5. Brambang (bawang merah) yang melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya, 
  6. Cabe merah diujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang meberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain. 
  7. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya.
Untuk membuat gudangan sendiri sebenarnya juga cukup mudah karena hanya beberapa macam sayur direbus, kemudian ditaburi oleh bumbu yang sangat unik karena terbuat dari kelapa parut atau ada juga yang menyebutnya sebagai sambal gudangan. Karena pembuatan yang mudah tersebut sehingga gudangan tidak hanya untuk acara khusus saja namun juga menjadi salah satu macam sajian untuk makan keluarga sehari-hari, selain itu terkadang dipasar-pasar tradisional juga ada yang menjajakannya. Selain itu anda wisatawan juga dapat memesan di warung marung sekitar destinasi wisata, saat ini sudah mulai banyak warung tradisional yang menjajakan makanan ini.

Artikel ini saya dedikasikan kepada rekan-rekan senasib dan sepenanggungan generasi tahun 90an. Untuk membuka kembali memori masa lalu. Memori masa kecil dimana kebahagiaan dan tawa selalu mendominasi, walaupun tanpa Android (walaupun sekarang tidak online satu hari saja sudah gundah gulana). Salam ...

Ingin berkarir sebagai PNS di Bidang Pariwisata? ikuti ulasanya disini