Friday, September 6, 2019

Teori dalam Riset Ilmiah Pariwisata

Pengertian Teori

Dalam melakukan riset peneliti membutuhkan teori untuk dapat menjelaskan secara cermat mengenai gejala-gejala atau fenomena. Teori yang dimaksud yaitu : 
  1. Merupakan sekumpulan dari ilmu yang telah diuji kebenarannya dan diterima oleh umum.
  2. Teori merupakan kumpulan dari konsep, definisi dan proposisi yang saling berhubungan
  3. Teori menjelaskan hubungan antar variabel atau antar konsep sehingga dapat menjelaskan fenomen-fenomen yang terjadi dilapangan dapat diketahui secara jelas.
  4.  Tujuan dari teori untuk menjelaskan fenomena
Jumlah teori yang harus dimiliki dalam penelitian kualitatif relatif lebih banyak dibanding penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif teori bersifat holistic dan akan semakin berkembang disesuaikan dengan fenomena yang terjadi di lapangan, sedangkan dalam penelitian kuantitatif teori sudah dipersiapkan sesuai dengan variabel penelitian kemudian diterapkan di lapangan. 

Pemahaman akan pengetahuan yang luas, baik pengetahuan teoritis maupun pengetahuan yang terkait dengan konteks sosial di lapangan sangat penting dimiliki oleh peneliti kualitatif untuk pengembangan wawasan dan memperdalam teorisasi yang ada. Namun demikian sekalipun peneliti kualitatif sudah banyak memiliki teori dan pengetahuan fenomena di lapangan sifatnya masih sementara karena dalam penelitian kualitatif tetap harus berpegang pada grounded research, yaitu menemukan teori berdasarkan data yang diperoleh di lapangan atau sistuasi sosial yang ada. 

Teori merupakan suatu kumpulan konstruk (construct) atau konsep (concepts), definisi (definitions), dan proposisi (proposition) yang menggambarkan fenomena secara sistematis melalui hubungan antar variable dengan tujuan untuk menjelaskan (memprediksi) fenomena alam (Kerlinger, 1986, Foundations of Behavioral Research New York USA: 9). 

Teori dalam Riset Ilmiah
Albert Einstein, Penemu Teori Relatifitas, Sumber: pixabay

Kerlinger (1981) mendefinisikan teori sebagai seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramal fenomena. “Theory is a set of interrelated construct (conscepts), definitions, and proposition that present a systematic view phenomena by specifying relations amog variables, with purpose of explaining and predicting the phenomena.” 

Teori adalah generalisasi, atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sistematik (Wiliam, 1986). Sugiyono (2011) dalam bukunya yang berjudul metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D menjelaskan teori dalam tiga sudut pandang, yaitu : 
  1. Teori menunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis. Hukum tersebut biasanya bersifat hubungan deduktif. Menunjukan variabel-variabel empiris yang bersifat ajeg dan dapat diramalkan.
  2.  Suatu teori dapat juga berupa suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu.
  3. Suatu teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi, terdapat hubungan yang fungsional antara data dan pendapat teoritis.
Setiap penelitian yang dikerjakan selalu menggunakan teori (Neuman, 2003), kemudian setiap teori harus dapat diuji kebenaranya. Oleh karena itu, riset dan teori adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Rumusan teori dalam penelitian kuantitatif lebih banyak mengandalkan berbagai sumber yang sudah memaparkan berbagai teori keilmuan. Menurut Santosa (2017), ada tiga hal pokok yang diungkap dalam definisi teori, yaitu : 
  1. Elemen teori terdiri atas konstruk, konsep, definisi dan proposisi
  2. Elemen teori memberikan gambaran sistematis mengenai fenomena melalui penentuan atas variabel
  3. Tujuan teori untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena yang terjadi.


Fungsi Teori

Hoy & Miskel (2001) mengemukakan beberapa fungsi teori sebagai berikut : 
  1. Sebagai konsep, asumsi dan generalisasi yang logis
  2. Sebagai pengungkap, penjelas, dan untuk meprediksi perilaku yang memiliki keteraturan
  3. Sebagai stimulan dan panduan untuk mengembangkan pengetahuan
Menurut Sugiyono (2011) sebuah teori mengandung makna sebagai fungsi yang mencakup 3 (tiga) hal dalam mempermudah perumusan variabel dan hipotesis penelitian kuantitatif yaitu : 
  1. Fungsi eksplanatif yaitu teori harus mampu menjelaskan hubungan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Misalnya peristiwa Upacara adat di Bali dengan peristiwa lonjakan penumpang pesawat dari Jakarta menjuju Bali.
  2. Fungsi prediktif yaitu teori dapat meramal atau memprediksi, Misalnya jumlah wisatawan akan semakin banyak apabila pelayanan obyek ditingkatkan. Dari teori ini dapat dijelaskan bahwa peningkatan pelayanan yang dilakukan dalam sebuah obyek wisata akan dapat memprediksi jumlah wisatawan
  3. Fungsi kontrol yaitu teori dapat mengendalikan peristiwa supaya tidak mengarah pada hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya peristiwa Tingkat hunian kamar hotel dengan peristiwa besarnya. Diskon yang dapat memicu tingkat hunian kamar disebabkan karena krisis ekonomi. Jadi dalam hal ini krisis ekonomi dapat dikontrol/dikendalikan dengan besarnya diskon
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi dari sebuah teorisasi yaitu untuk menjelaskan dan meramal perilaku, menemukan teori lainnya, digunakan untuk aplikasi praktis, memberikan perspektif bagi usaha penjaringan data, membimbing dan menyajikan gaya penelitian. 

Mencari dan menyusun teori merupakan hal yang harus segera dilaksanakan setelah peneltiti selesai menemukan rumusan masalah dalam proyek penelitianya. Teori-teori yang digunkan adalah teori-teori yang relevan dengan tema dan rumusan masalah penelitian, jika temanya adalah “Pengaruh pelayanan terhadap kepuasan pelanggan di restoran Murah Meriah” setidaknya teori yang digunakan adalah teori tentang pelayanan prima, kepuasan dan tentang restoran, didukung dengan hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian “Pengaruh pelayanan terhadap kepuasan pelanggan di restoran Murah Meriah,” baik hasil riset yang positif, maupun negatif riset untuk mendukung perumusan kerangka pemkiran dan juga digunakan sebagai dalih dalam pembahasan yang akan mendukung hasil penelitian. Landasan teori ini perlu ditegakan agar penelitian kita mempunyai dasar yang kokoh, bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and eror). Landasan teoritis juga berfungsi sebagai ciri bahwa suatu penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data (Sugiyono, 2011). 

Teori dalam Riset Ilmiah
Teori Evolusi  yang Sangat Fenomenal dari Charles Darwin
Sumber: https://pixabay.com


Konsep, Konstruk, dan Definisi Operasional

Konsep pada dasarnya merupakan objek penelitian, kejadian atau atribut yang sifatnya masih sangat umum (abkstrak). Sebuah konsep atau kepustakaan yang dipilih hendaknya mengacu pada problematika dan tujuan penelitian. Hal ini dimaksudkan agar dalam perumusan hipotesis nantinya tidak keliru. Konsep yang dipilih juga harus memiliki relevansi dengan definisi-definisi operasional yang terdapat dalam judul penelitian. Konsep dalam penelitian memiliki peran penting diantaranya : 1) Konsep membantu mempermudah dan memperjelas perumusan hipotesis; dan 2) konsep mempermudah pembentukan variabel penelitian. Jika penelitian ditujukan untuk menguji “Pengaruh pelayanan terhadap kepuasan pelanggan di restoran Murah Meriah,”maka agar rumusan masalah mudah dimengerti dan tidak ambigu, maka sebelum mengajukan sebuah hipotesis perlu dikaji kejelasan terhadap istilah-istilah yang ingin diuji, apakah yang dimaksud dengan pelayanan, apa yang dimaksud kepuasan? Pertanyaan pertanyaan tersebut berkaitan dengan konsep dan konstruk dalam penelitian. 

Konstruk merupakan abstraksi yang lebih jelas daripada sebuah konsep. Kontruk adalah konsep yang telah memiliki makna tambahan. Sebagai contoh“kepuasan konsumen,” kepuasan konsumen dijelaskan (diabstraksikan) sebagai perasaan psikologis seseorang atau sekelompok orang sebagai pembeli atau sekelompok pembeli yang menikmati produk atau jasa tertentu. dimensi seseorang atau sekelompok orang terhadap pelayanan, rasa, harga dan lain sebagainya. Kesimpulanya, konstruk yang baik adalah konstruk yang mampu menemukan atau mencerminkan variabel penelitian. Variabel penelitian sendiri juga dapat dimaknai sebagai sebuah konstruk yang diukur dengan berbagai macam nilai, sehingga mampu memberikan gambaran yang lebih nyata terhadap sebuah atau beberapa fenomena dalam penelitian. 

Definisi operasional merupakan sebuah konstruk yang diubah menjadi sebuah variabel yang lebih jelas, memiliki kejelasan ukuran, dan indikatornya. Contoh, kepuasan konsumen terhadap produk jasa. Puas terhadap pelayanan tercermin (indikator) dari ketepatan waktu, ketepatan ukuran, ketepatan penampilan. Contoh lain pada definisi operasional loyalitas, loyalitas tercermin dari (indikatornya) keseringan atau frekuensi beli, tingkat frekuensi merekomendasikan kepada orang lain. Dengan kata lain, definisi operassional merupakan variabel yang sudah dapat teramati (observed variable). 

Kegunaan Teori dalam Penelitian

Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam penelitian kuantitiatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori berfungsi untuk memperjelas masalah yang akan diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi dalam menyusun instrumen penelitian (Sugiyono, 2011). 

Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa teori mencakuptiga fungsipaling tidak dalamsebuah penelitian ketiga fungsi teori tersebut dapat difungsikan untuk memperjelas permasalahan yang dikemukakan, dapat menuntun perumusan hipotesis dan bisa mempermudah dalam perumusan variabel penelitian 

Teori yang digunakan dalam sebuah riset kuantitatif memiliki beberapa fungsi. Uraian berikut memberikan ilustrasi masing-masing fungsi keberadaanya dalam sebuah penelitian. 

Salah satu fungsi seperti dijelaskan di atas (fungsi eksplanatif) yaitu bahwa teori untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup atau konstruk variabel yang akan diteliti. Berikut merupakan contoh penyusunan konstruk dari variabel penelitian yaitu “daya tarik wisata” sebagai berikut. 

“Pengelolaan keselamatan wisata akan selalu terkait dengan upaya-upaya meminimalkan risiko dan kecelakaan. Risiko didefinisikan sebagai sumber-sumber yang mengandung unsur perusak yang potensial bagi wisatawan, operator atau destinasi, dan komunitas. Elemen-elemen risiko dilihat dari siapa atau apa yang terkena dampak, atau apa yang mengalami kerugian dari setiap keadaan yang mengandung bahaya. Elemen-elemen tersebut termasuk : manusia, lingkungan, fasilitas, infrastruktur, sarana umum, dan ekonomi (AICST, 2006). Risiko secara umum adalah segala sesuatu yang dapat terjadi pada diri manusia yang tidak diharapkan muncul.Semua kegiatan manusia pada dasarnya akan memiliki risiko meskipun kegiatan tersebut bertujuan untuk mencapai kesenangan saja (Yudistira & Susanto, 2012).Sedangkan kecelakaan didefinisikan sebagai kejadian yang tidak diinginkan, yang dapat menimbulkan cidera, kematian, kerugian, dan kerusakan pada property. Kecelakaan dapat terjadi karena kondisi simultan dari faktor manusia, faktor lingkungan, dan faktor alam sendiri (AICST, 2006). Dalam Guidelines for safe recreational water (2003)disebutkan bahwa pencegahan resiko kecelakaan dapat dilakukan dengan peningkatan keselamatan. Peningkatan keselamatan tersebut dapat diintervensi dengan 5 pendekatan yaitu : 1. Pekerjaan/ perekayasaan (engineering); 2. Memperkuat (enforment); 3. Pendidikan (education); 4. Tindakan untuk memberanikan (encouragement); dan 5. Kesiapan bahaya (emergency preparadness). Pengelola destinasi wisata yang mengandung risiko tinggi wajib memperhatikan keselamatan pengunjung dengan perencanaan dan pengendalian risiko, seperti diamanahkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 10 Tahun, 2009 Pasal 26. Desa Wisata Nglanggeran merupakan desa wisata yang mengadalkan wisata alam Kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran serta aktifitas petualangan pendakian sebagai daya tarik wisata utamanya. Petualangan merupakan kegiatan yang sengaja mencari risiko dan ketidakpastian hasil. Dalam wisata petualangan komersial, risiko dan ketidakpastian harus dikelola erat jika tidak dapat dihilangkan (Ewert dkk dalam Entwistle, 1923).” 

Fungsi kedua dari teori berguna untuk prediksi dan membantu peneliti menemukan fakta, merumuskan hipotesis, dan menyusun instrumen penelitian. Perhatikan contoh berupa kaitan teori dan hipotesis riset berikut 

“Hasil dari penelitian terdahulu menunjukan bahwa daya tarik wisata terbukti secara empiris sebagai faktor yang menentukan kepuasan wisatawan terhadap sebuah destinasi (Naidoo dkk., 2011; Adom, Jussem, Pudun, & Azizan, 2012; Basiya & Rozak, 2012;Soebiyantoro, 2009; dan Darsono, 2015). Berdasarkan hasil-hasil dari penelitian terdahulu, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : (1) Ha:Daya tarik wisata berpengaruh terhadap kepuasan wisatawan.” 

Penggalan riset di atas menunjukan pola keterkaitan antara teori-teori ahli dan perumusan hipotesis penelitian. Penggalan hasil riset di atas sekaligus menunjukan fungsi teori untuk prediksi dan membantu peneliti menemukan fakta, serta merumuskan hipotesis penelitian (Ha). Sedangkan fungsi teori untuk menyusun instrumen penelitian akan dijelaskan di bab selanjutnya. 

Fungsi teori yang ketiga adalah untuk membahas hasil penelitian, mendukung hasil analisis penelitian, dan memecahkan masalah. Lihatlah contoh penggalan dari pembahasan hasil penelitian dengan rumusan masalah “Pengaruh daya tarik wisata terhadap kepuasan wisatawan”berikut : 

“Daya tarik wisata terbukti berpengaruh signifikan terhadap kepuasan wisatawan di Gunung Api Purba Nglanggeran. Hal ini dapat dibuktikanpada tabel 5 nilai P value0.000, jauh lebih kecil dari nilai alpha 0.05 pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini mendukung penelitan terdahulu yang telah dilakukan oleh Naidoo dkk (2011) yang menemukan bahwa daya tarik wisata berbasis alam berkontribusi dalam mempengaruhi kepuasan. Demikian juga dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa daya tarik wisata berkontribusi positif dalam mempengaruhi kepuasan berwisata (Lesmana & Brahmanto, 2016; Rajesh, 2013;Naidoo dkk., 2011; Adom et al., 2012; Basiya & Rozak, 2012; dan Darsono, 2015).” 

“Nilai original sample variabel daya tarik wisata dalam mempengaruhi kepuasan adalah positif yaitu sebesar 0,408 yang menunjukkan bahwa arah hubungan antara X1dengan Y1 adalah positif, Pengaruh positif tersebut juga dapat dibuktikan dengan hasil analisis diskriptif yang menunjukan persepsi responden terhadap daya tarik wisata yang positif, selaras dengan tingkat kepuasan responden yang berada pada tingkat puas. Jika diinteprestasikan berarti semakin meningkat daya tarik wisata semakin meningkat pula kepuasan wisatawan di Gunung Api Purba Nglanggeran. Pengaruh positif juga dapat berarti sebaliknya, yaitu semakin menurun kualitas daya tarik wisata akan semakin menurun pula kepuasan wisatawan sehingga dikawatirkan akan berdampak pada menurunya minat kunjungan wisatawan seperti pada hasil penelitian terdahulu (Wiradiputra & Brahmanto, 2016).Hasil ini membuktikan betapa pentingnya pengelolaan daya tarik wisata dalam meningkatkan kepuasan wisatawan. Oleh karena itu dirasa tepat langkah pengembangan daya tarik wisata alam di Gunung Api Purba yang telah dilakukan pengelola dengan mengacu pada prinsip-prinsip Community Based Tourism (CBT). Prinsipmenjunjung tinggi kearifan dalam CBT diharapkan mampu menghasilkan destinasi wisata yang unik serta bernilai lokal (lokal sense) sebagai sebuah keunggulan bersaing (Ainurrahman, 2010); menjamin keberlanjutan lingkungan; meningkatkan kebanggaan masyarakat lokal (Suansri dkk., 2013), serta yang utama pengembangan daya tarik dengan CBT terbukti mampu menjamin kepuasan wisatawan.” 

Berdasarakan penggalan riset di atas, maka dapat diamati sistematika pembahasan hasil riset (ditandai dengan garus bawah) pada riset kuantitatif, dengan didukung teori-teori (hasil penelitian) para peneliti terdahulu guna memperkuat temuan peneliti. Dari contoh diatas setidaknya dapat dilihat salah satu fungsi teori yaitu untuk membahas hasil penelitian, mendukung hasil analisis penelitian, dan memecahkan masalah secara ilmiah. 

Untuk memperkuat pembahasan hasil riset kuantitatif, maka setidaknya cari teori pendukung (hasil penelitian terdahulu) lebih dari 1, minimal 3 atau bisa lebih banyak lagi. Kecuali untuk penelitian yang benar-benar masih baru atau penelitian prediktif, peneliti bisa mengesampingkan saran di atas.

No comments:
Write komentar